Antusias Ikuti Edukasi Gizi, Anak-Anak Pematang Durian Diajari Kental Manis Bukan Susu
Trauma healing menjadi bagian penting dari kegiatan ini. YAICI ingin anak-anak bisa sejenak melupakan kondisi sulit yang mereka alami akibat banjir.
“Kita ingin anak-anak bisa merasa senang dan kuat. Pesannya, memang ini situasi yang sulit, tapi akan selesai. Mereka harus tetap happy,” tutur Satria.

Sementara itu, Penyuluh Puskesmas Kecamatan Sekerak, Ersad, menekankan pentingnya pengaturan pola konsumsi anak di masa pasca bencana, ketika pilihan makanan sangat terbatas.
“Pasca bencana kita bergantung pada bantuan. Yang bisa dilakukan adalah substitusi makanan. Kalau yang datang roti dan biskuit, roti sebaiknya jadi makanan utama karena setara dengan nasi. Biskuit itu selingan, bukan untuk mengenyangkan,” jelasnya.
Ia mengakui pemantauan kesehatan anak-anak belum berjalan optimal akibat rusaknya fasilitas kesehatan dan belum aktifnya posyandu. Vaksin dan peralatan medis ikut terdampak banjir, sehingga pelayanan kesehatan masih bergantung pada relawan.
Datok Penghulu Desa Pematang Durian, Abdur Rahman, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran relawan dan aktivitas bersama anak-anak memberi dampak psikologis positif bagi warga desa.
“Anak-anak jadi terhibur dan lebih bersemangat. Ini sangat membantu kondisi mereka setelah bencana,” katanya.
Ia menambahkan, kebutuhan pokok warga relatif telah terpenuhi. Namun, pemulihan ekonomi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan perkebunan, masih menjadi harapan utama ke depan.
Di tengah antusiasme anak-anak yang mengikuti setiap sesi kegiatan hari itu, tersimpan harapan besar agar pemulihan pasca bencana tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga memastikan anak-anak tetap tumbuh sehat dengan gizi yang layak.
Editor : Ismail