Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Bukan Akhir Segalanya, Ini Tuntunan Islam Saat Ditinggal Wafat Anggota Keluarga
Advertisement . Scroll to see content

Alquran Surah Al Baqarah Ayat 50, Jangan Contoh Perangai Bani Israil

Senin, 26 Januari 2026 | 11:20 WIB
  • author Vitrianda Hilba Siregar
Alquran Surah Al Baqarah Ayat 50, Jangan Contoh Perangai Bani Israil
Kisah-kisah Bani Israil yang diabadikan Allah dalam Alquran sejatinya bukan sekadar pengantar tidur atau bacaan sejarah belaka, tetapi bisa menjadi pelajaran. Foto: Dok

MEDAN, iNewsMedan.id -Kisah-kisah Bani Israil yang diabadikan Allah dalam Alquran sejatinya bukan sekadar pengantar tidur atau bacaan sejarah belaka, melainkan cermin besar agar manusia dan tidak terperosok dalam lubang yang sama.

Salah satu potret nyata rapuhnya iman mereka terlihat saat mereka menyaksikan mukjizat yang luar biasa dahsyat. Dengan mata kepala sendiri, mereka melihat laut terbelah dan Fir’aun beserta bala tentaranya tenggelam ditelan ombak, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 50 yang mengingatkan momen ketika Allah menyelamatkan mereka di bawah tatapan mata mereka sendiri.

Allah berfirman:

وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ 

“(Ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami menyelamatkanmu dan menenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedangkan kamu menyaksikan(-nya).” (QS Al-Baqarah [2]: 50).

Namun, keajaiban tersebut ternyata tidak otomatis menghujamkan ketundukan dalam sanubari mereka. Masalahnya terletak pada niat; fokus mereka hanyalah ingin lepas dari penindasan Firaun, bukan benar-benar ingin menghambakan diri kepada Allah.

Akibatnya, meski tanda kebesaran Tuhan sudah terpampang nyata, mentalitas pembangkang tetap mendominasi. Puncaknya adalah ketika mereka dengan lancang meminta dibuatkan tuhan lain kepada Nabi Musa, serta menolak perintah berjihad.

Sikap tidak tahu diri ini terekam dalam Surah Al-Ma'idah ayat 24, saat mereka dengan angkuh menyuruh Nabi Musa dan Tuhannya pergi berperang sendiri sementara mereka hanya duduk menunggu hasil.

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ

“Mereka berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja’.” (QS Al-Mā'idah [5]: 24).

Pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah bahwa iman yang sejati bukan sekadar alat untuk selamat dari kesulitan hidup atau pelarian saat ditimpa masalah.

Iman adalah kepatuhan mutlak dan ketundukan hati kepada Allah dalam kondisi lapang maupun sempit. Sebagai umat Islam kisah ini adalah pengingat agar kita senantiasa menjaga kelembutan hati dan merawat ketaatan, supaya kita tidak menjadi kaum yang hanya mencari Tuhan saat butuh, namun berpaling saat diminta berjuang.

Allāhu Ta‘āla a‘lam bishawab.

Editor: Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut