Bencana di Sumut Picu Hambatan Distribusi dan Lonjakan Inflasi
MEDAN, iNewsMedan.id - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat bahwa pada Desember 2025 terjadi inflasi year-on-year (yoy) tertinggi di Kota Gunungsitoli, Nias, yang menyentuh angka 10,84 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 119,24.
Namun, inflasi terendah justru tercatat di Kabupaten Karo sebesar 3,15 persen dengan IHK 111,20.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan bahwa bencana yang menimpa sejumlah daerah di Sumatera memberikan dampak tingginya inflasi di beberapa daerah, termasuk yang tidak terkena bencana langsung seperti Kota Gunungsitoli.
"Adapun dampak bencana memang mengalami hambatan distribusi, terutama seperti di daerah bencana Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapsel. Bencana ini ternyata juga berdampak cukup besar pada kabupaten/kota di Kepulauan Nias, dan Gunungsitoli mencatat inflasi di atas 10 persen," katanya kepada wartawan, Senin (5/1/2026).
Asim menjelaskan, untuk inflasi Sumatera Utara secara month-to-month (mtm) adalah 1,66 persen dan secara year-on-year 4,66 persen.
"Di tengah situasi dampak bencana, inflasi ini relatif cukup terkendali, terutama pada kota-kota kita seperti Medan dan sekitarnya," jelas Asim.
Asim menuturkan, di Sumut hanya terganggu karena sulitnya pasokan di Kota Sibolga saat itu sehingga terimbas besar ke Kota Gunungsitoli.
Dengan adanya tindakan sigap dari pemerintah, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, provinsi, maupun kabupaten/kota, penanganan bencana di Sumatera Utara terutama pada masa tanggap darurat relatif sangat baik.
"Saat ini sudah bisa membuka akses, terutama beberapa daerah yang selama ini terisolasi," ungkap Asim.
Lebih lanjut, BPS Sumut mencatat Provinsi Sumatera Utara mengalami inflasi year-on-year (yoy) sebesar 4,66 persen pada Desember 2025. Angka ini dibarengi dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada di level 112,25.
"Kondisi inflasi di wilayah Sumatera Utara menunjukkan variasi yang cukup signifikan antarwilayah pantauan," ungkap Asim.
Menurutnya, kenaikan inflasi tahunan ini dipicu oleh naiknya indeks harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang kenaikan tertinggi, disusul oleh sektor pangan.
Inflasi year-on-year ini didorong oleh kenaikan harga di berbagai sektor. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya melonjak hingga 14,83 persen, sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau naik sebesar 8,44 persen.
Tak hanya itu, beberapa kelompok lain juga memberikan kontribusi terhadap inflasi, di antaranya: kesehatan naik 3,15 persen; pendidikan naik 2,82 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran naik 2,43 persen; pakaian dan alas kaki naik 1,57 persen; serta transportasi naik 1,37 persen.
Meskipun mayoritas mengalami kenaikan, ada dua kelompok yang mengalami deflasi atau penurunan indeks. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun sebesar 0,28 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun tipis 0,02 persen.
BPS Sumut juga melaporkan tingkat inflasi month-to-month (mtm) pada Desember 2025 berada di angka 1,66 persen. Sementara itu, tingkat inflasi year-to-date (ytd) tercatat sama dengan angka tahunan, yakni sebesar 4,66 persen.
"Secara keseluruhan, pergerakan harga di akhir tahun ini dipengaruhi oleh pola konsumsi masyarakat dan fluktuasi harga di pasar yang tercermin dalam kenaikan IHK," pungkasnya.
Editor : Jafar Sembiring