Dari Hoaks hingga Pelestarian Hutan, 9 Penggerak Perubahan Berbagi Inspirasi di Medan

Ismail
Sofyan Tan bersama sembilan Fellow Ashoka dan peserta berfoto bersama usai Kuliah Umum dan Dialog Changemaker di Universitas ST Bhinneka, Medan, Senin, 19 Oktober 2026. Foto: Istimewa

Sofyan menilai perubahan sosial membutuhkan generasi yang tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Mahasiswa, katanya, perlu mengembangkan potensi diri sekaligus menggunakan kemampuan tersebut untuk membawa manfaat bagi orang lain.

“Setiap orang lahir dengan potensi untuk berubah. Namun, perubahan sejati adalah perubahan yang memberikan manfaat dan dampak positif bagi orang lain di sekitarnya, masyarakat, bahkan dunia. Kami ingin melahirkan leader changemakers yang mampu membawa perubahan sosial yang dahsyat dalam sepuluh hingga tiga puluh tahun mendatang,” tegasnya.

Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara sekaligus pendiri Perkumpulan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Nani Zulminarni, mengatakan gerakan perubahan sosial tidak bisa hanya bergantung pada orang-orang yang selama ini dikenal sebagai penggerak perubahan.

Nani, yang merupakan Fellow Ashoka 2007, menjelaskan bahwa Ashoka didirikan Bill Drayton sekitar 45 tahun lalu. Organisasi tersebut berkembang dari inspirasi terhadap orang-orang yang bekerja menyelesaikan persoalan sosial dan kemanusiaan, hingga melahirkan konsep kewirausahaan sosial atau social entrepreneurship.

Saat ini, Ashoka memiliki sekitar 4.000 Fellow di 100 negara, termasuk 215 Fellow di Indonesia. Mereka dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, antara lain kebaruan gagasan, dampak sosial, potensi replikasi, dan integritas moral.

“Dunia semakin kompleks, tidak cukup hanya mengandalkan para Fellow Ashoka. Karena itu, Ashoka mencanangkan gerakan global Everyone a Changemaker agar setiap orang, termasuk mahasiswa, memiliki kemampuan menjadi pembuat perubahan di lingkungannya,” jelas Nani.

Sembilan Fellow Ashoka yang hadir membawa pengalaman dari bidang yang berbeda. Septiaji Nugroho, pendiri Masyarakat Antifitnah Indonesia (MAFINDO) dan Fellow Ashoka 2022, menggerakkan masyarakat melawan hoaks dan disinformasi melalui literasi digital serta pemeriksaan fakta.

Di bidang ekonomi dan pemberdayaan perempuan, Dinny Jusuf melalui Toraja Melo membuka akses pasar bagi perempuan perajin tenun Toraja agar tradisi lokal dapat menjadi sumber penghidupan berkelanjutan. Ia merupakan Fellow Ashoka 2018.

Sementara itu, Sri Wahyaningsih, Fellow Ashoka 1991 sekaligus pendiri Sanggar Anak Alam (SALAM), mengembangkan pendidikan alternatif yang menempatkan anak sebagai subjek pembelajaran melalui pengalaman nyata, eksplorasi, dan pengembangan potensi diri.

Editor : Ismail

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network