Saat Laut Tak Lagi Menjadi Sandaran Nelayan di Medan Belawan, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?

Junaidin Zai
Irwansyah (50), nelayan tradisional di kampung nelayan sebrang, kecamatan Medan Belawan, kota Medan, ketika diwawancarai, Jumat (25/9/2026). Foto: Junaidin Zai/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id — Setiap Jumat, Irwansyah tidak melaut. Nelayan tradisional berusia 50 tahun yang tinggal di Kampung Nelayan Seberang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara, itu baru kembali melempar jala keesokan harinya.

Belakangan, melaut tak lagi selalu berarti membawa pulang penghasilan. Ikan, kepiting, dan udang yang didapat semakin sedikit. Sebagian nelayan bahkan menggunakan perahunya untuk menyeberangkan warga demi memperoleh penghasilan tambahan.

Anak-anak muda memilih merantau. Yang bertahan di kampung harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar biaya sekolah anggota keluarga.

“Kelihatannya hidup kami biasa-biasa saja. Tapi pada hakikatnya sangat sulit hari ini,” ujar Irwansyah, Jumat (25/9/2026).

Menurut Irwansyah, perubahan fungsi lahan di kawasan pesisir mulai terasa sejak sekitar 2008. Dampaknya tidak langsung terlihat karena perubahan berlangsung perlahan. Namun, dalam sekitar satu dekade terakhir, ruang yang biasa digunakan nelayan untuk mencari ikan semakin terbatas.

Kawasan tangkap juga didatangi nelayan dari daerah lain. Irwansyah tidak mempersoalkan keberadaan mereka. Ia hanya berharap ruang tangkap ditata agar keterbatasan wilayah tidak berkembang menjadi perselisihan.

“Harapannya memang ini harus ditatalah. Jangan sampai jadi konflik sosial,” katanya.

Editor : Jafar Sembiring

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network