“Kadang-kadang di desilnya bisa desil 10, rupanya dipakai untuk beli mobil. Sementara dia orang susah,” katanya.
Ia juga menyebut seorang warga di kawasan Bahari yang menurutnya layak masuk kelompok kesejahteraan rendah, tetapi data kependudukannya tercatat berkaitan dengan listrik untuk sejumlah rumah.
Robby mengatakan pemerintah kecamatan berupaya memperbaiki data warga yang dinilai tidak sesuai. Ia juga mengingatkan warga agar tidak sembarangan memberikan KTP atau kartu keluarga kepada orang lain.
Dalam kasus Miah, anaknya, Mariani (51), janda dan bekerja mencuci pakaian di rumah orang dengan penghasilan sekitar Rp300 ribu per bulan, mengatakan keluarga sedang meminta bantuan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) untuk mengurus persoalan tersebut.
Sejak rumah roboh, Mariani memilih tidur di rumah tetangga pada malam hari. Ia khawatir bangunan kembali runtuh. Miah sendiri menolak pindah ke rumah anaknya di Martubung atau ke panti sosial.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
