Pemeran tokoh Brina, Taskya Namya, mengungkapkan bahwa isu perlindungan anak menjadi alasan utamanya menerima peran ini. “Salah satu alasanku mau bergabung di film ini adalah karena isu anak-anak,” tutur Taskya.
Membayangkan tiga keponakannya berada di posisi korban membuatnya makin berkomitmen menyampaikan pesan film ini. “Aku juga akan melakukan apa pun seperti Brina dan teman-teman jurnalisnya, mengejar dan tidak membiarkan pemangsa ini untuk lolos,” tegasnya.
Film ini juga menawarkan warna baru bagi industri perfilman tanah air lewat paduan horror-crime-action dan penempatan empat karakter perempuan sebagai pahlawan utama. Yasamin Jasem menyebut adegan aksi yang intens menjadi tantangan tersendiri selama proses produksi.
“Salah satu yang menarik untukku juga adalah adegan action-nya yang cukup heavy, ditambah pacing horor yang memacu adrenalin. Kami para pemeran harus melakukan workshop action selama tiga bulan sebelumnya lebih dulu, dan sangat menantang,” ungkap Yasamin.
Relevansi cerita makin terasa saat disandingkan dengan berbagai peristiwa nyata di lapangan. Kasus kekerasan terhadap anak masih marak terjadi, seperti insiden kekerasan seksual terhadap siswi SMP di Makassar pada Juli lalu, hingga kasus kekerasan di salah satu daycare Yogyakarta yang sempat menyita perhatian nasional.
Kondisi serupa terjadi di Medan. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APMP2KB) Kota Medan mencatat ada 39 laporan kasus kekerasan terhadap anak dengan total 44 korban jiwa per Juni tahun ini. Maraknya rentetan kasus tersebut menegaskan pentingnya meningkatkan kepedulian publik lewat kampanye #JagaAnakAnak.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
