Untuk memetakan perubahan kondisi vegetasi dan wilayah yang mengalami kerusakan pascabencana, penelitian memanfaatkan teknologi penginderaan jauh melalui Normalized Difference Vegetation Index (NDVI).
Pemetaan itu diharapkan menjadi dasar ilmiah dalam menentukan langkah restorasi kawasan Batang Toru sekaligus menyusun strategi pembangunan yang lebih sesuai karakteristik dan tingkat kerentanan wilayah.
Kajian UI yang mengintegrasikan data geologi, geomorfologi, geofisika, penginderaan jauh, dan hidrometeorologi menyimpulkan bahwa banjir bandang Batang Toru dan Garoga pada akhir November 2025 merupakan bencana hidrometeorologi yang dipicu hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, dengan curah hujan harian mencapai 229,7 mm dan akumulasi mingguan lebih dari 600 mm, setara kejadian berulang 300 tahun.
Hujan ekstrem itu diperkuat oleh kondisi geomorfologi pegunungan, struktur geologi, dinamika daerah aliran Sungai (DAS) yang sangat aktif, migrasi saluran sungai, dan karakteristik sedimen bawah permukaan.
Kajian juga tidak menemukan bukti yang menghubungkan kejadian banjir dengan aktivitas operasi pertambangan.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
