Ia menilai tingginya kriminalitas, kemiskinan, hingga penyalahgunaan narkoba turut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran HIV di perkotaan, termasuk akibat penggunaan jarum suntik secara bersama-sama.
“Pengguna narkoba kadang memakai jarum suntik bersama karena alasan ekonomi. Dari situ penularan bisa terjadi,” ujarnya.
Sementara itu, narasumber dari BRIN, Mirna Widiyanti, mengatakan Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai target eliminasi HIV/AIDS.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tingkat penemuan kasus HIV di Sumatera Utara pada 2024 masih berada di angka 12,7 persen dan masuk kategori kuning. Pada 2025, Sumatera Utara juga tercatat berada di posisi kelima nasional untuk jumlah kasus HIV/AIDS.
“Semua orang bisa terkena HIV, tergantung perilaku dan kebiasaan hidupnya,” kata Mirna.
Ia menambahkan, penularan HIV paling umum terjadi melalui hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik tercemar, serta penularan dari ibu ke bayi.
“Cara penularan HIV mirip dengan hepatitis B sehingga kewaspadaan masyarakat harus terus ditingkatkan,” pungkasnya.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
