Harga Komoditas Naik, Penyebab Inflasi Sumut April 2026 Capai 2,92 Persen

Isnaini Kharisma
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra. Foto: Istimewa

MEDAN, iNewsMedan.id - Pada April 2026, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mengalami inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 2,92 persen. 

Kenaikan inflasi tersebut dipicu dengan meningkatnya harga sejumlah komoditas bahan makanan, emas perhiasan, hingga tarif angkutan udara.

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra menjelaskan, inflasi tersebut tercermin dari naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,82 pada April 2025 menjadi 112,00 pada April 2026.

“Namun, secara bulanan, inflasi month-to-month (m-to-m) tercatat sebesar 0,44 persen, sementara secara tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) masih mengalami deflasi sebesar 0,22 persen,” kata Asim, Senin (4/5/2026).

Asim menuturkan, seluruh kabupaten/kota yang menjadi cakupan IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Gunungsitoli sebesar 4,66 persen dengan IHK 114,53.

Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Deli Serdang sebesar 1,92 persen dengan IHK 111,20.

Kemudian, secara bulanan, mayoritas daerah di Sumut juga mengalami inflasi. Kenaikan tertinggi tercatat di Kabupaten Labuhanbatu.

Asim mengungkapkan, inflasi tahunan dipengaruhi kenaikan harga hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan kenaikan 3,61 persen.

Tak hanya itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 10,68 persen.

"Pada kelompok transportasi, pendidikan, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga turut memberikan kontribusi terhadap inflasi,” ungkapnya.

Sejumlah komoditas yang dominan menyumbang inflasi di antaranya emas perhiasan dengan andil terbesar 0,59 persen, daging ayam ras 0,29 persen, beras 0,28 persen, serta ikan dencis 0,21 persen.

"Kenaikan harga juga terjadi pada tomat, angkutan udara, berbagai jenis ikan, telur ayam ras, dan minyak goreng.

Di sisi lain, beberapa komoditas tercatat menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi, seperti cabai merah sebesar 0,69 persen, bawang putih 0,13 persen, serta bawang merah dan kentang masing-masing 0,09 persen," jelas Asim.

Lebih lanjut, untuk inflasi bulanan, komoditas yang dominan memberikan sumbangan ialah angkutan udara sebesar 0,13 persen, bawang merah 0,08 persen, tomat 0,07 persen, serta jeruk dan minyak goreng masing-masing 0,05 persen.

Asim menambahkan, untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,29 persen. Bahkan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,67 persen.

"Apabila dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi April 2026 justru lebih rendah dibandingkan April 2024 yang sebesar 3,96 persen, namun justru lebih tinggi dibandingkan April 2025 sebesar 2,09 persen,” pungkasnya.

Editor : Jafar Sembiring

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network