Saat Pasar Ragu, Para Petinggi Justru Guyur Miliaran Rupiah Borong Saham

Jafar Sembiring
BCA. Foto: Istimewa

Pengamat pasar modal, Rendy Yefta, menilai bahwa keyakinan manajemen BCA sejalan dengan realitas valuasi saham BBCA saat ini yang dianggap relatif murah. Jika dibandingkan menggunakan rasio Price to Earnings Ratio (PER), BBCA saat ini diperdagangkan di kisaran PER 15 kali.

Rendy membandingkan angka tersebut dengan valuasi bank digital seperti Bank Jago (ARTO) yang memiliki PER di kisaran 64 kali. Hal ini menunjukkan bahwa investor saat ini membayar valuasi empat kali lebih mahal untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan ARTO dibandingkan dengan BBCA.

"Sangat ironis melihat bank sebesar BCA yang konsisten mencetak laba puluhan triliun rupiah hanya dihargai 15 kali labanya, sementara bank digital yang risikonya lebih tinggi dihargai jauh di atas itu. Ini adalah fenomena 'salah harga' di mana pasar memberikan diskon besar untuk saham berkualitas premium," ujar Rendy.

Kombinasi antara akumulasi oleh pihak internal (insider buying) dan valuasi yang rendah memberikan indikasi kuat bahwa saham BBCA sedang bersiap untuk melakukan rebound. Dengan fundamental yang kokoh dan dominasi pasar di sektor CASA, target harga untuk menembus level Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan ke depan dinilai sebagai skenario yang sangat realistis.

Sebagai catatan, saham BBCA pernah menyentuh rekor All-Time High (ATH) di level hampir Rp11.000 per lembar. Jika rasio PER kembali ke rata-rata historisnya di angka 18–20 kali, maka ruang kenaikan harga masih terbuka sangat lebar bagi para investor yang masuk di level harga saat ini.

Editor : Jafar Sembiring

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network