Film Ghost in the Cell Jadi Primadona di Pasar Film Internasional

Jafar Sembiring
Film terbaru karya Joko Anwar, Ghost in the Cell, tayang di bioskop Indonesia pada 16 April 2026 mendatang. Foto: Istimewa

JAKARTA, iNewsMedan.id - Sukses besar di Berlinale 2026, film terbaru karya penulis dan sutradara Joko Anwar, Ghost in the Cell, kini siap merambah pasar global. Film ini dikabarkan akan ditayangkan di 86 negara di seluruh dunia.

Luar biasanya, hak penayangan termasuk distribusi bioskop di puluhan negara tersebut sudah terjual bahkan sebelum filmnya resmi tayang di Indonesia. Di tanah air sendiri, film ini dijadwalkan menyapa penonton mulai 16 April mendatang.

Ghost in the Cell merupakan persembahan terbaru dari rumah produksi Come and See Pictures. Proyek ini melibatkan kolaborasi strategis dengan RAPI Films, Legacy Pictures, dan Barunson E&A yang bertindak sebagai sales agent untuk perilisan worldwide.

Mengenai esensi ceritanya, Joko Anwar mengungkapkan bahwa film ini berakar pada kondisi sosial yang nyata.

“Ghost in the Cell adalah film yang lahir dari realita Indonesia. Walaupun ini adalah film yang gampang dinikmati karena bergenre komedi horor, ini adalah film tentang kekuasaan. Tentang sistem yang korup,” ujar Joko Anwar, Selasa (31/3/2026).

Ia menambahkan bahwa film ini juga memotret nasib orang-orang kecil yang terjebak di dalam sistem tersebut. Baginya, ini adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika kebenaran ditutupi, dan apa yang terjadi ketika ia akhirnya muncul ke permukaan.

Awalnya, tim produksi tidak menyangka bahwa penonton di luar negeri akan merasa relevan dengan cerita ini. Namun, kenyataannya isu yang diangkat memiliki resonansi yang luas di berbagai belahan dunia.

“Ternyata ini bukan hanya cerita Indonesia. Tapi ternyata ini juga cerita Amerika. Cerita Brasil. Cerita India. Cerita Prancis. Karena korupsi itu tidak punya kewarganegaraan. Karena ketidakadilan itu bahasa universal,” tegas Joko.

Menurutnya, perjuangan untuk mencari kebenaran adalah hal yang dimengerti oleh semua manusia, di mana pun mereka hidup. Hal itulah yang menjadi alasan utama mengapa 86 negara berebut membeli hak penayangannya.

“Bukan karena ini ‘film Indonesia yang bagus untuk ukuran Indonesia’, tapi karena bagi mereka film ini yang memenuhi standar mereka dan juga relevan,” tambah Joko Anwar lagi.

Editor : Jafar Sembiring

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network