MEDAN, iNewsMedan.id- Target ambisius Presiden Prabowo Subianto untuk menghapus penggunaan atap seng di Indonesia dalam tiga tahun ke depan mulai direspons daerah. Di Sumatera Utara, Gubernur Bobby Nasution menyatakan dukungan terhadap program gentengisasi, namun mengingatkan kesiapan teknis dan pasokan material menjadi kunci keberhasilan kebijakan tersebut.
Bobby menilai program gentengisasi sejalan dengan upaya memperbaiki kualitas hunian sekaligus estetika permukiman. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah daerah tidak bisa serta-merta menjalankan program tanpa kejelasan skema teknis dari pusat.
“Kita masih menunggu teknisnya, karena pasti berkaitan dengan ketersediaan genteng. Tapi dari sisi estetika, kita sangat setuju,” ujar Bobby kepada wartawan di Kantor Gubernur Sumut, Jumat (6/2/2026).
Ia menambahkan, penggunaan genteng dinilai lebih relevan untuk wilayah pesisir Sumatera Utara yang selama ini didominasi atap seng dan menghadapi suhu tinggi. Menurut Bobby, material seng cenderung memperparah panas dan mudah mengalami korosi di wilayah pantai.
“Daerah dengan intensitas panas tinggi, termasuk pesisir, itu seng memang gampang berkarat. Jadi perlu dipikirkan alternatifnya. Tapi teknis pelaksanaannya tetap kita tunggu,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan program gentengisasi dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026). Program ini menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah).
Dalam forum tersebut, Prabowo menegaskan target Indonesia bebas dari atap seng dalam waktu tiga tahun. Ia menilai dominasi atap seng di perkotaan hingga pedesaan tidak hanya merusak estetika, tetapi juga mengurangi kenyamanan hunian masyarakat.
“Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genting dari seng,” ujar Prabowo.
Prabowo juga menyinggung ketergantungan pada industri aluminium dan mendorong penggunaan material alternatif yang lebih sesuai dengan kondisi iklim Indonesia.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
