Lebih lanjut, dari wilayah tempat tinggal, TPT di perkotaan masih jauh lebih tinggi, yakni 6,25 persen, dibandingkan dengan TPT perdesaan sebesar 3,08 persen. Dibandingkan Agustus 2025, TPT perkotaan mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 1,42 persen poin, sementara TPT perdesaan turun 0,25 persen poin.
"Untuk tingkat pendidikan penganggur yang masih didominasi lulusan menengah atas. Pengangguran dengan pendidikan tertinggi SMA mencatat TPT tertinggi, yakni 7,45 persen, serta mendominasi distribusi pengangguran dengan porsi 43,53 persen pada November 2025. Sebaliknya, distribusi pengangguran terendah berasal dari tamatan Diploma I/II/III sebesar 1,89 persen," jelasnya.
Asim mengungkapkan, selain pengangguran terbuka, BPS juga mencatat tingkat setengah pengangguran pada November 2025 sebesar 8,97 persen. Maka, dari 100 penduduk bekerja terdapat sekitar delapan hingga sembilan orang yang bekerja di bawah jam kerja normal dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.
"Jika dibandingkan Agustus 2025, tingkat setengah pengangguran mengalami penurunan 0,08 persen poin. Secara gender, tingkat setengah pengangguran laki-laki tercatat 9,06 persen, turun 0,50 persen poin, sementara pada perempuan sebesar 8,84 persen, justru mengalami kenaikan 0,52 persen poin," pungkasnya.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
