Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Diminati Milenial, Bisnis Cicil Emas di Medan Tumbuh 115 Persen
Advertisement . Scroll to see content

Pesona Anyaman Rotan Indonesia, Dari Kerajinan Tradisional Menjadi Mahakarya Perhiasan

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 21:14 WIB
  • author Mayfazri
Pesona Anyaman Rotan Indonesia, Dari Kerajinan Tradisional Menjadi Mahakarya Perhiasan
Adelle Jewellery mengolah kearifan lokal seni anyaman rotan Indonesia menjadi perhiasan mewah melalui The Woven Collection. (Istimewa)

MEDAN, iNewsMedan.id – Adelle Jewellery mengolah kearifan lokal seni anyaman rotan Indonesia menjadi perhiasan mewah melalui The Woven Collection. Koleksi ini memadukan keterampilan pengrajin lokal dengan desain perhiasan kontemporer sebagai upaya membawa kekayaan kriya Indonesia ke pasar internasional.

CEO Adelle Jewellery, Michael Surya, mengatakan pemilihan rotan berangkat dari pencarian terhadap kekayaan budaya, kerajinan, dan kreativitas Indonesia yang berpotensi dikembangkan menjadi produk mewah. Rotan dipilih karena memiliki karakter dan pola anyaman yang unik serta mendapat perhatian dalam tren fesyen global.

“Yang kita cari adalah kebudayaan Indonesia, kerajinan Indonesia, dan kreativitas Indonesia yang menarik untuk kita angkat dan kita buat menjadi luxury goods. Salah satunya rotan karena punya gaya yang unik dan sekarang juga menjadi tren di dunia,” kata Michael dalam perayaan 13 tahun Adelle Jewellery di Medan, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Michael, Indonesia memiliki potensi besar dalam industri rotan. Ia menyebut hampir 80 persen produksi rotan dunia berasal dari Indonesia. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui kreativitas, desain, dan standar pengerjaan yang tinggi.

“Kita mau mengangkat bahwa kerajinan Indonesia juga bisa dijadikan barang luxury. Harapannya, kita bisa membawanya ke pasar internasional bersama Kementerian Ekonomi Kreatif,” ujarnya.

Melalui The Woven Collection, Adelle Jewellery menerjemahkan karakter anyaman rotan ke dalam desain fine jewellery dengan memperhatikan pola, struktur, dimensi, dan detail pengerjaan. Pengembangan koleksi dilakukan melalui riset terhadap 50 pengrajin seni anyaman rotan, pembuatan sketsa, eksplorasi pola, hingga pengembangan prototipe.

Michael menjelaskan, koleksi tersebut tidak hanya menonjolkan nilai artistik, tetapi juga menghadirkan fleksibilitas penggunaan. Sejumlah elemen perhiasan dapat dilepas, dipasang kembali, dan dikombinasikan sehingga pemakainya dapat menyesuaikan bentuk serta cara mengenakannya.

Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian tinggi. R&D Manager Adelle Jewellery, Melissa Surya, sebelumnya menjelaskan bahwa setiap piece dalam koleksi tersebut membutuhkan proses pengerjaan hingga 960 jam.

“Tantangannya adalah menerjemahkan karakter anyaman rotan ke dalam struktur jewellery yang tetap presisi, elegan, dan nyaman dikenakan,” kata Melissa.

Kolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif RI menjadi bagian penting dalam pengembangan The Woven Collection. Kementerian berperan mempertemukan Adelle Jewellery dengan pengrajin rotan lokal, termasuk pengrajin binaan dari Kalimantan dan Cirebon.

Direktur Kriya Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif, Neli Yana, mengatakan kolaborasi tersebut membuka peluang bagi pengrajin lokal untuk memperluas pasar melalui pengembangan produk yang menggabungkan keterampilan tradisional dan desain modern.

“Adelle mampu bertahan selama 13 tahun dengan kreativitas dan standar yang sangat ketat. Membawa kearifan lokal menjadi karya seperti ini merupakan sesuatu yang harus diapresiasi dan dibanggakan, serta menjadi karya bersama yang perlu terus didukung,” ujar Neli.

Menurutnya, produk yang mengangkat kearifan lokal memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional apabila didukung kualitas, kreativitas, dan konsistensi dalam menjaga standar produksi.

Neli menegaskan, dukungan pemerintah terhadap kolaborasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan koleksi perhiasan, tetapi juga membuka kesempatan bagi pengrajin lokal agar produknya memiliki nilai tambah dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Target internasional sudah pasti sangat terbuka. Adelle mampu bersaing secara global, dan pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif sangat mendukung agar kolaborasi ini terus terjalin,” katanya.

Ia berharap kerja sama antara Adelle Jewellery, pemerintah, dan pengrajin tidak berhenti pada perayaan 13 tahun perusahaan tersebut. Ke depan, semakin banyak kearifan lokal Indonesia yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif dan diperkenalkan ke pasar global.

Selain dikembangkan menjadi perhiasan, material rotan juga dihadirkan dalam elemen dekorasi acara melalui keterlibatan Long Story Short sebagai pengrajin rotan Indonesia. Kolaborasi tersebut mencakup penggunaan rotan dalam dekorasi, keterlibatan pengrajin pada acara, serta pembuatan limited edition Adelle Woven Clutch.

Pengembangan The Woven Collection memperlihatkan potensi kriya tradisional ketika dipadukan dengan inovasi desain dan pengerjaan berstandar tinggi. Rotan tidak hanya diposisikan sebagai bahan kerajinan, tetapi menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan produk mewah yang tetap berakar pada identitas Indonesia.

Michael mengatakan peluncuran koleksi rotan tersebut menjadi langkah awal Adelle Jewellery dalam mengembangkan pendekatan wearable art, yakni karya seni yang dapat dikenakan. Perusahaan juga berencana membawa pendekatan tersebut dalam pengembangan koleksi berikutnya.

The Woven Collection diperkenalkan dalam rangka perayaan 13 tahun Adelle Jewellery melalui tema The Art of Jewellery. Rangkaian perayaan digelar di sejumlah kota, dimulai dari Bandung pada 3 Oktober 2026, Palembang pada 16 Oktober, Surabaya pada 24 Oktober, dan Medan pada 31 Oktober, sebelum mencapai puncaknya di Jakarta pada 14 November 2026.

Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan perhiasan mewah tidak hanya bertumpu pada nilai estetika, tetapi juga pada upaya memperkenalkan keterampilan pengrajin Indonesia ke pasar yang lebih luas. Keberlanjutan kerja sama dan konsistensi kualitas menjadi faktor penting agar potensi kriya lokal dapat berkembang menjadi produk yang mampu bersaing secara global.

Editor: Chris

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut