Sebungkus Tape dan Doa Tahajud yang Mengantar Hamzani ke Bangku Kuliah
MEDAN, iNewsMedan.id- Doa Asyuni Azramsyah setiap sepertiga malam akhirnya menemukan jawaban. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu tak pernah berhenti memohon agar anaknya, Hamzani Mubaraq, bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sejak lulus SMA pada Mei 2026, impian Hamzani untuk kuliah nyaris pupus. Ijazahnya masih tertahan karena keluarganya belum mampu melunasi tunggakan uang sekolah selama beberapa bulan.
Di tengah kondisi itu, sebuah pertemuan singkat di tepi Jalan Sunggal mengubah keadaan.
Muhammad Rizal, suami Asyuni, tak sengaja bertemu dengan dr Sofyan Tan saat melintas di depan lapak tape miliknya akhir pekan lalu. Rizal kemudian memberanikan diri menghampiri Sofyan Tan dan menceritakan kondisi anaknya yang ingin kuliah, tetapi ijazahnya masih tertahan.
Pertemuan itu berlangsung tak sampai dua menit. Namun, cerita Rizal rupanya membekas bagi Sofyan Tan.
Lapak tape tersebut hanya berjarak sekitar 100 meter dari sekolah yang didirikannya. Di kawasan yang sama juga berdiri kampus tempat ia mengembangkan pendidikan. Kondisi itu membuat Sofyan Tan kembali berpikir tentang masih adanya keluarga yang kesulitan mengakses pendidikan.
Hari-hari berikutnya, sebungkus tape yang dibawa dari lapak Rizal kembali mengingatkannya pada pertemuan tersebut.
Sofyan Tan kemudian meminta staf ahli di Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan mencari dan memverifikasi kondisi keluarga Rizal.
Hasil penelusuran menunjukkan keluarga tersebut masih tinggal mengontrak di rumah sederhana di Jalan Setiabudi Gang Untung, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Kondisi rumahnya juga tergolong sederhana, dengan sebagian dinding bagian dalam masih berupa plester kasar tanpa cat dan bagian luar belum diplester.
Yang tak kalah berat, Hamzani harus bekerja untuk mengumpulkan uang demi menebus ijazahnya yang tertahan.
Setelah mengetahui kondisi tersebut, Sofyan Tan meminta agar tunggakan uang sekolah Hamzani dilunasi menggunakan uang pribadinya. Hamzani juga diarahkan untuk segera mendaftar program KIP Kuliah.
Namun, persoalan lain muncul. Data keluarga Rizal dan Asyuni saat itu tercatat dalam desil 6-10 sehingga belum masuk kategori penerima yang dapat diusulkan untuk mendapatkan bantuan tersebut.
Proses perubahan data kemudian dilakukan melalui BPS. Sejumlah dokumen dilengkapi, termasuk foto kondisi rumah, rekening listrik 900 VA dan persyaratan administrasi lainnya.
Kurang dari 12 jam, hasil verifikasi menunjukkan keluarga tersebut masuk dalam desil yang lebih rendah sehingga dapat diusulkan sebagai penerima beasiswa.
Bagi Asyuni, perubahan itu menjadi jawaban atas doa yang selama ini dipanjatkannya.
“Terusnya tiap malam saya berdoa, tahajud. Berharap anak saya ini bisa kuliah, bisa diambilnya ijazahnya. Dan baru hari ini berkat Pak Sofyan Tan doa saya dijawab. Terimakasih banyak Pak,” ujar Asyuni sambil meneteskan air mata.
Asyuni dan Rizal kemudian bertemu kembali dengan Sofyan Tan di Kampus Satya Terra (ST) Bhinneka, Sabtu, 26 September 2026. Keduanya tak kuasa menahan haru karena tak menyangka persoalan pendidikan anak mereka akhirnya mendapat jalan keluar.
Hamzani kini memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Saya sampai hari ini masih merasa mimpi,” ujar Rizal sambil mencubit pipinya sendiri.
Dalam pertemuan itu, Sofyan Tan mengatakan bantuan yang diberikan bukan untuk mengharapkan balasan. Ia berharap Hamzani dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dengan belajar sungguh-sungguh hingga kelak mampu mengangkat martabat keluarganya.
Ia juga berpesan agar Hamzani, ketika sukses nanti, mau membantu orang lain yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang suku, agama maupun ras.
“Saya ingin tanggal 25 September 2026 kemarin, jadi titik awal bagi anak bapak ibu untuk bangkit, tekun belajar sungguh-sungguh hingga suatu saat jadi orang sukses untuk bantu orang lain seperti yang sudah saya lakukan pada keluarga ini,” ungkap Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu.
Editor: Ismail