Empat Pilar Pertahanan Siber untuk Menghadapi Ancaman di Era Cloud
Untuk menghindari kerugian besar dan mengadopsi teknologi baru dengan percaya diri, organisasi harus beralih dari pertahanan manual ke postur keamanan yang otomatis dan tangguh. Reza Aminy memaparkan empat pilar utama:
1. Kontrol Berbasis Identitas dan Konteks: Organisasi wajib menggunakan autentikasi multifaktor (MFA) berbasis perangkat keras yang tahan terhadap phishing, serta akses berbasis konteks untuk memastikan hanya pengguna terverifikasi pada perangkat aman yang dapat mengakses data sensitif.
2. Otomatisasi Pertahanan: Tim keamanan harus beralih dari penambalan (patching) manual ke pertahanan otomatis, seperti menggunakan Web Application Firewall (WAF) untuk memblokir ancaman di sisi tepi (edge) sebelum pembaruan perangkat lunak diterapkan.
3. Modernisasi Respons Insiden: Karena aktor ancaman modern kerap menghancurkan log dan cadangan data, organisasi harus menerapkan pipeline respons insiden cloud yang otomatis. Integrasi analisis yang diperkuat AI dapat memangkas waktu penahanan ancaman dari hitungan hari menjadi hanya beberapa menit.
4. Budaya Keamanan Mendalam: Manajemen risiko siber harus dijalin erat ke dalam budaya perusahaan, memastikan karyawan menjadi lini pertahanan pertama melawan rekayasa sosial dan ancaman berbasis AI.
BDO di Indonesia berkomitmen mendampingi organisasi dalam membangun ketahanan siber melalui penerapan kerangka kerja manajemen risiko yang terformalisasi. Dengan mengidentifikasi aset kritis dan kerentanan, BDO Indonesia memandu perusahaan menerapkan kontrol keamanan yang kuat guna melindungi infrastruktur digital. Pendekatan ini mencakup pelatihan karyawan, pemantauan berkelanjutan, dan pengujian berkala agar perusahaan siap menghadapi ancaman masa depan.
Editor : Jafar Sembiring