Gak Kuno Lagi, Tren Makan Pake Sambal Kini Jadi Gaya Hidup Baru Anak Muda
MEDAN, iNewsMedan.id – Di tengah tren makanan Korea, Jepang, hingga berbagai kuliner viral yang silih berganti memenuhi media sosial, ada satu cita rasa yang tetap sulit tergantikan di lidah orang Indonesia: sambal.
Bagi banyak orang, sambal bukan sekadar pelengkap makanan. Kehadirannya sudah menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari. Bahkan tak sedikit yang menganggap makan terasa kurang lengkap tanpa sensasi pedas yang khas.
Fenomena itu pula yang kini mendorong semakin banyak pelaku industri kuliner menghadirkan kembali makanan-makanan Nusantara dengan kemasan yang lebih dekat dengan gaya hidup generasi muda.
Di Medan, tren tersebut terlihat melalui kolaborasi antara The People's Cafe dan Sambal Bu Rudy yang menghadirkan sejumlah menu khas Nusantara dengan sentuhan cita rasa yang selama ini identik dengan Surabaya.
Assistant Manager The People's Cafe, Samuel Jozephus, mengatakan kolaborasi tersebut berangkat dari kebiasaan sederhana masyarakat Indonesia yang sangat dekat dengan sambal.
"Kalau melihat kebiasaan masyarakat Indonesia, banyak yang merasa makan belum lengkap tanpa sambal. Dari situ muncul ide untuk menghadirkan perpaduan rasa yang tetap akrab di lidah, tetapi memberikan pengalaman yang berbeda," ujarnya, Selasa, 9 Juni 2026.
Melalui kolaborasi itu, sejumlah menu seperti Nasi Cumi Hitam, Nasi Lidah Serundeng, dan Sate Kelapa dipadukan dengan sambal khas Bu Rudy. Menurut Samuel, proses pengembangannya tidak dilakukan secara instan karena kedua pihak ingin menjaga karakter masing-masing rasa agar tetap terasa.
"Tantangannya justru bagaimana membuat dua karakter yang sama-sama kuat ini bisa saling melengkapi, bukan saling mendominasi," katanya.
Samuel menilai minat generasi muda terhadap makanan Nusantara sebenarnya terus tumbuh. Namun, mereka cenderung mencari pengalaman baru dalam menikmati makanan tradisional yang sudah dikenal sebelumnya.
Karena itu, berbagai makanan khas daerah kini mulai banyak dihadirkan dalam konsep yang lebih modern dan nyaman tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
Pendiri Sambal Bu Rudy, Lanny Siswadi, melihat tren tersebut sebagai kabar baik bagi keberlangsungan kuliner Indonesia. Menurutnya, inovasi memang diperlukan, tetapi identitas rasa khas daerah tetap harus dipertahankan.
"Indonesia punya kekayaan kuliner yang luar biasa. Jangan sampai generasi muda lebih mengenal makanan luar negeri daripada makanan daerahnya sendiri," ujarnya.
Perempuan yang merintis usaha sambal tersebut lebih dari tiga dekade lalu itu mengatakan kekuatan kuliner Nusantara terletak pada kedekatan emosional yang dimiliki setiap hidangan. Banyak makanan tradisional mampu menghadirkan kenangan tentang rumah, keluarga, dan kampung halaman.
Di tengah derasnya tren kuliner global, kolaborasi semacam ini menjadi salah satu cara memperkenalkan kembali kekayaan rasa Indonesia kepada generasi yang lebih muda. Bukan dengan mengubah identitasnya, melainkan menghadirkannya dalam pengalaman yang terasa lebih dekat dengan keseharian mereka.
Sebab pada akhirnya, makanan bukan hanya soal mengenyangkan perut. Di balik setiap rasa, selalu ada cerita, kenangan, dan identitas yang ingin terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Editor : Ismail