get app
inews
Aa Text
Read Next : Berdayakan 70 Penenun, Sakkamadeha Samosir Jadi Mitra Binaan Pertamina

SUIEFF 2026: Desainer Malaysia hingga Filipina Unjuk Gigi di Medan

Rabu, 20 Mei 2026 | 23:10 WIB
header img
Sumatera Utara International Ethnic Fashion Festival (SUIEFF) 2026 berlangsung di Hotel Karibia, Medan, Sabtu (16/5/2026). (Foto: Istimewa).

MEDAN, iNewsMedan.id - Penyelenggaraan Sumatera Utara International Ethnic Fashion Festival (SUIEFF) 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran karya busana, tetapi juga menjadi motor penggerak pelestarian budaya melalui industri kreatif.

Acara yang berlangsung pada Sabtu (16/5/2026) lalu di Hotel Karibia, Medan, ini sukses menghadirkan para desainer berbakat dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Penyelenggara SUIEFF, Santi Sinaga, mengungkapkan bahwa festival ini bertujuan menjadi wadah promosi budaya. Selain itu, ajang ini diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan etnik Sumatera Utara dan wilayah lain kepada masyarakat luas.

"Tujuan utama kegiatan ini adalah sebagai wadah promosi budaya, memperkenalkan kekayaan etnik Sumatera Utara dan daerah lain, sekaligus mendorong perkembangan ekonomi kreatif serta industri fashion berbasis budaya. Kami juga ingin mendukung para desainer dan model muda," ujarnya.

Mengusung tema “Etnik Internasional”, skala penyelenggaraan tahun ini terasa lebih luas dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Keterlibatan peserta tidak lagi terbatas dari Sumatera Utara, melainkan meluas ke berbagai wilayah di Indonesia hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina.

Santi menyebutkan bahwa kolaborasi pada SUIEFF 2026 mengalami peningkatan ke tingkat internasional. Hal tersebut terlihat dari tingginya antusiasme peserta yang mendaftar. Awalnya, pihak penyelenggara hanya menargetkan sekitar 20 desainer, namun pada hari pelaksanaan, jumlah peserta yang bergabung mencapai 24 desainer.

Menurut Santi, fashion etnik memiliki peran krusial karena tidak sekadar berkaitan dengan pakaian, tetapi juga menjadi sarana pelestarian identitas budaya dan pengenalan warisan lokal kepada generasi muda.

"Fashion etnik bukan hanya soal pakaian, melainkan juga media untuk memperkenalkan budaya dan identitas daerah," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah karya yang ditampilkan berhasil mengangkat unsur budaya lokal, seperti motif khas Melayu, batik, hingga ulos yang dipadukan secara apik dengan konsep busana etnik modern.

Dalam proses kurasi peserta, tim penyelenggara menilai beberapa aspek penting. Di antaranya adalah kreativitas, orisinalitas desain, kemampuan mengangkat unsur budaya, inovasi perpaduan konsep tradisional dan modern, serta kualitas pengerjaan busana.

Berbeda dari sebelumnya, pelaksanaan tahun ini tidak mengadakan kompetisi khusus bagi para desainer. Penilaian kini lebih difokuskan pada pemilihan ikon (icon) kegiatan.

Santi menilai industri fashion etnik di Sumatera Utara memiliki peluang ekonomi yang sangat menjanjikan. Sektor ini berkaitan erat dengan pengembangan UMKM, pariwisata, kain tradisional seperti ulos, serta pasar fashion budaya yang terus berkembang pesat.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya tantangan besar dalam pengembangannya, terutama dalam menjaga keaslian nilai budaya di tengah gempuran tren global yang dinamis.

"Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga nilai budaya tetap asli sambil mengikuti perkembangan tren. Jangan sampai komersialisasi yang berlebihan justru menghilangkan makna luhur budaya tersebut," ungkap Santi.

Ke depan, penyelenggara berharap industri fashion etnik di Sumatera Utara dapat tumbuh menjadi pilar ekonomi kreatif yang tangguh, membuka lapangan usaha baru, serta mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.

Editor : Jafar Sembiring

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut