get app
inews
Aa Text
Read Next : Dosen Jangan Puas di SINTA! Ini Cara Tembus Jurnal Internasional

Generasi Muda Didorong Angkat Budaya Lokal Lewat Konten Digital

Jum'at, 15 Mei 2026 | 15:40 WIB
header img
Peserta memadati kegiatan Semarak Budaya bertema literasi dan kreativitas digital di YPSIM Medan, Jumat (15/5). Acara membahas pentingnya budaya lokal di tengah arus konten media sosial. Foto: Istimewa

MEDAN, iNewsMedan.id  – Perkembangan teknologi digital dinilai harus diimbangi dengan penguatan literasi budaya agar konten kreatif yang lahir di media sosial tidak kehilangan nilai edukasi dan identitas budaya lokal.

Hal itu mengemuka dalam kegiatan Semarak Budaya bertema “Dari Warisan ke Inovasi: Mendorong Pemajuan Budaya Melalui Literasi dan Kreativitas Digital” yang digelar di Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Jalan Sunggal, Medan, Jumat (15/5).

Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, mengatakan perkembangan teknologi digital kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami dan mengolah informasi menjadi konten yang bermanfaat.

“Kemajuan teknologi sudah menjadi sarapan pagi kita. Ketika bangun tidur, yang pertama disapa pasti handphone,” ujarnya.

Ia menilai literasi bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami informasi dan mengembangkannya menjadi karya yang bernilai. Namun, budaya membaca masyarakat Indonesia dinilai masih rendah dan menjadi tantangan di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Rata-rata orang Indonesia setahun hanya sekali membaca buku, bahkan ada yang tidak pernah membaca buku sama sekali. Ini menjadi tantangan bagaimana di era digitalisasi ini literasi dapat ditingkatkan,” katanya.

Menurut dia, rendahnya literasi akan berdampak pada kualitas konten kreatif, termasuk konten yang mengangkat budaya daerah. Padahal, banyak potensi budaya lokal seperti kuliner tradisional, sejarah daerah hingga tradisi masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi konten menarik di media digital.

Ia menekankan pembuat konten perlu memahami terlebih dahulu nilai sejarah dan budaya dari materi yang ingin diangkat agar pesan yang disampaikan lebih kuat dan mudah diterima masyarakat.

“Kalau mau membuat konten yang punya nilai sejarah maka wajib membaca terlebih dahulu. Itu memaksa pembuat konten memahami literasi budaya sehingga bisa membuat alur cerita yang baik dan mudah diterima masyarakat,” ucapnya.

Pendekatan kreatif melalui platform digital juga dinilai dapat menjadi cara efektif memperkenalkan budaya kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan media sosial dibandingkan bacaan konvensional.

Sementara itu, narasumber kegiatan A'ung Ezra Al'Fatah menilai rendahnya literasi budaya mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan budayawan dan pelaku seni. Derasnya tren digital disebut membuat karya budaya lokal semakin jarang dikenal masyarakat.

“Ada kekhawatiran suatu saat nanti tidak ada lagi yang menciptakan lagu anak-anak dan tidak ada lagi yang memutarkan lagu daerah. Yang muncul justru tren joget dan konten media sosial yang terus berganti,” kata dosen Universitas Satya Terra Bhinneka tersebut.

Dalam kegiatan itu, peserta juga mengikuti kuis kebudayaan berbasis digital untuk mengukur wawasan kebangsaan dan pengetahuan budaya Indonesia. Acara tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pelestarian budaya berbasis kreativitas dan literasi.

Editor : Ismail

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut