Pengaruh Harga Komoditas Naik, Inflasi Tahunan Sumut Capai 3,86 Persen
MEDAN, iNewsMedan.id - Sepanjang Maret 2026, perkembangan harga sejumlah komoditas di Sumatera Utara mengalami kenaikan secara tahunan. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), hampir di seluruh kabupaten/kota, Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumut mengalami inflasi year-on-year (yoy), walaupun secara bulanan terjadi deflasi.
Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan, inflasi tahunan Sumut pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,86 persen. Angka tersebut juga ditandai dengan kenaikan IHK dari 107,37 pada Maret 2025 menjadi 111,51 pada Maret 2026.
“Untuk harga komoditas memang mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu, meskipun secara bulanan kita melihat adanya deflasi sebesar 0,13 persen. Namun, ini menunjukkan dinamika harga yang cukup kompleks,” kata Asim Saputra, Kamis (2/4/2026).
Dia menjelaskan, untuk inflasi tertinggi secara tahunan terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,30 persen dengan IHK 114,90. Sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Karo sebesar 3,01 persen dengan IHK 110,79.
Sedangkan di sisi lain, seluruh wilayah IHK di Sumut mengalami deflasi secara month-to-month (m-to-m), dengan penurunan terdalam tercatat di Kabupaten Labuhanbatu.
"Inflasi tahunan didorong oleh kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 6,73 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 14,77 persen," jelasnya.
Lebih lanjut, untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga memberikan andil signifikan dengan kenaikan sebesar 3,50 persen. Kenaikan juga terjadi pada sektor pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga restoran.
“Adapun komoditas yang paling dominan mendorong inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, serta berbagai jenis ikan seperti dencis dan tongkol,” ungkapnya.
Tak hanya itu, terdapat sejumlah komoditas yang justru menahan laju inflasi, bahkan menyumbang deflasi secara tahunan. Komoditas tersebut di antaranya cabai merah, kentang, bawang putih, hingga cabai rawit.
Sementara secara bulanan, deflasi terutama dipicu oleh turunnya harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, tomat, dan cabai rawit. Selain itu, penurunan harga emas perhiasan dan tarif angkutan udara juga turut berkontribusi terhadap deflasi.
“Pada aspek musiman pasca hari besar keagamaan serta perbaikan distribusi menjadi faktor utama turunnya harga sejumlah komoditas pangan,” ujar Asim.
Meski terjadi deflasi bulanan, BPS mencatat secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), Sumatera Utara masih mengalami deflasi sebesar 0,66 persen. Dengan kondisi ini, BPS mengimbau agar pemerintah dan pemangku kebijakan tetap mewaspadai potensi gejolak harga, terutama pada komoditas pangan strategis yang cenderung fluktuatif.
"Maka itu, stabilitas harga perlu terus dijaga, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi agar tetap dalam kisaran yang sehat,” pungkasnya.
Editor : Chris