Serangan Amerika-Israel Tewaskan 555 Orang, 200 di Antaranya Anak SD Sedang Puasa Ramadhan
Hingga hari ini, Boroujerdi mencatat sedikitnya 555 warga sipil tewas. Mirisnya, mayoritas korban adalah kelompok rentan yang tidak terlibat dalam konflik militer.
Dalam konferensi pers di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/6), Boroujerdi memaparkan fakta yang menyesakkan hati. Dari total korban jiwa, sekitar 200 di antaranya adalah anak-anak usia sekolah dasar (SD).
Kejadian ini terasa kian tragis karena para korban merupakan masyarakat sipil yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan.
"Kurang lebih 200 anak SD meninggal dunia. Mereka adalah warga non-militer yang sedang menjalankan ibadah puasa. Dalam keadaan lapar dan haus karena beribadah, mereka justru dijadikan sasaran," ungkap Boroujerdi dengan nada bicara yang dalam.
Tak hanya soal jatuhnya korban jiwa, Boroujerdi juga mengecam keras sikap Amerika Serikat dan Israel yang dinilai telah mengkhianati jalur meja perundingan. Menurutnya, serangan ini terjadi justru di saat proses diplomasi tengah menunjukkan titik terang.
Ia menekankan bahwa tindakan militer ini adalah bukti nyata ketidakpatuhan kedua negara tersebut terhadap hukum internasional dan negosiasi damai.
"Ini membuktikan sekali lagi bahwa mereka tidak patuh pada diplomasi. Saat kami berada di meja perundingan, mereka justru menyerang Iran," tegasnya.
Pernyataan Boroujerdi ini juga diperkuat oleh kesaksian Menteri Luar Negeri Oman selaku mediator netral, yang menyebutkan bahwa sebenarnya proses negosiasi sudah mencapai tahap yang sangat progresif sebelum serangan terjadi.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta