Bobby Nasution Buka Peluang KEK Kesehatan, Tak Mau Pasien Sumut Berobat ke Luar Negeri
MEDAN, iNewsMedan.id – Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menegaskan bahwa rumah sakit di Sumatera Utara harus berbenah serius agar mampu bersaing di tengah kompetisi layanan kesehatan global dan menahan derasnya arus pasien yang memilih berobat ke luar negeri.
Hal itu disampaikan Bobby saat membuka Seminar dan Workshop Perumahsakitan PERSI Sumatera Utara ke-16 bertema “Mewujudkan Ekosistem Rumah Sakit yang Handal dan Berkelanjutan” serta Medan Hospital Expo ke-14 di Hotel Santika Medan, Selasa (10/2/2026).
Bobby mengungkapkan, sektor kesehatan memiliki peran besar dalam mendorong Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sumatera Utara yang kini telah berada di atas rata-rata nasional. Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup jika masyarakat masih merasa lebih aman mencari layanan kesehatan ke negara tetangga.
“Sumatera Utara ini sangat dekat dengan negara-negara tetangga. Kalau layanan kita tidak benar-benar siap, pasien akan dengan mudah memilih berobat ke Malaysia atau Singapura,” ujar Bobby.
Ia menyoroti potensi kerugian ekonomi akibat fenomena tersebut. Menurutnya, lebih dari Rp7 triliun per tahun uang masyarakat Indonesia mengalir ke luar negeri hanya untuk layanan kesehatan, belum termasuk biaya lain seperti transportasi dan akomodasi.
“Ini bukan sekadar soal bisnis rumah sakit, tapi soal kepercayaan masyarakat. Kalau satu rumah sakit bermasalah, citra seluruh rumah sakit di Sumatera Utara bisa ikut rusak,” tegasnya.
Bobby menekankan, rumah sakit tidak cukup hanya menjanjikan kesembuhan, tetapi harus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan ketenangan sejak pasien pertama kali masuk. Menurutnya, pelayanan yang manusiawi adalah fondasi utama ekosistem rumah sakit yang kuat.
“Pasien dan keluarga datang dalam kondisi tertekan. Minimal ketika masuk rumah sakit, mereka merasa tenang dan senang. Kalau sudah begitu, urusan medisnya kita kerjakan dengan profesional,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Bobby membuka peluang pengembangan kawasan ekonomi khusus kesehatan di Sumatera Utara. Pemerintah provinsi, kata dia, siap mendukung dari sisi perizinan hingga penyediaan lahan milik daerah jika diperlukan.
“Kalau mau bersaing secara global, kita harus berani bermimpi besar. Kenapa kawasan ekonomi khusus kesehatan tidak kita bangun di Sumatera Utara?” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum PERSI Pusat dr. Bambang Widodo menilai rumah sakit di Indonesia, termasuk Sumatera Utara, tengah menghadapi tekanan global yang semakin kompleks. Mulai dari percepatan teknologi informasi, tuntutan pelayanan berbasis keselamatan pasien, hingga kewajiban mendukung pengurangan emisi karbon.
“Teknologi informasi seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas akses layanan, meningkatkan keselamatan pasien, dan efisiensi rumah sakit,” ujar Bambang.
Ia juga menekankan pentingnya perubahan paradigma pelayanan, dari pasien sebagai objek menjadi subjek utama dalam pengambilan keputusan layanan kesehatan. Pelibatan pasien dan keluarga, menurutnya, akan meningkatkan kepuasan sekaligus menekan kejadian tidak diharapkan.
Ketua Umum PERSI Sumatera Utara periode 2026–2030, dr. Syaiful Munawar Sitompul menambahkan, kepengurusan baru berkomitmen memperkuat tata kelola rumah sakit, peningkatan kualitas SDM, digitalisasi layanan, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Seluruh langkah tersebut diarahkan untuk membangun rumah sakit yang lincah, adaptif, dan berdaya saing.
“Rumah sakit bukan hanya entitas bisnis, tetapi juga entitas sosial. Tantangan ke depan menuntut rumah sakit lebih empati, profesional, dan responsif,” ujarnya.
Sebelum seminar dan workshop digelar, acara diawali dengan pelantikan Pengurus PERSI Wilayah Sumatera Utara Periode 2026–2030 yang dilakukan Ketua Umum PERSI Pusat Bambang Widodo. Dalam kepengurusan tersebut, dr. Syaiful Munawar Sitompul dipercaya sebagai Ketua PERSI Sumut, didampingi dr. Jamaludin, MARS, CHQP, dr. Iskandar Candra, M.Kes, dan dr. Utama A. Tarigan, Sp.BP-RE(K) sebagai wakil ketua.
Jabatan Sekretaris diemban Dr. dr. Ery Suhaymi, sementara Bendahara dijabat dr. Retno Sari Dewi.
Editor : Ismail