get app
inews
Aa Text
Read Next : Bantuan Bencana Sumatra Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan

Dua Bulan Pascabanjir, Kampung Serba Masih Menata Hidup

Rabu, 04 Februari 2026 | 19:46 WIB
header img
YAICI menyalurkan bantuan gizi bagi anak dan balita di Kampung Serba, Aceh Tamiang, sebagai upaya pemulihan pascabanjir dalam rangka Hari Gizi Nasional 2026, Rabu, 4 Februari 2026. Foto: iNewsMedan.id

ACEH, iNewsMedan.id- Dua bulan setelah banjir besar melanda, Kampung Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, perlahan bangkit. Air memang sudah surut, listrik kembali menyala, dan sebagian warga mulai pulang ke rumah. Namun bagi Muhammad Yanis, Datok Penghulu Kampung Serba, bencana belum sepenuhnya berlalu.

Hal itu disampaikan Yanis usai menerima bantuan untuk anak dan balita dari Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) yang datang langsung melihat kondisi warga pasca banjir, Rabu, 4 Februari 2025.

“Alhamdulillah, kondisi kami sudah jauh membaik dibanding awal banjir. Tapi jujur, kami belum pulih sepenuhnya,” ujar Yanis.

Sekitar 215 kepala keluarga di Kampung Serba sempat mengungsi ke berbagai tempat. Ada yang ke desa tetangga, ada yang menumpang di rumah saudara, ada pula yang bertahan di tenda darurat. Hingga kini, sebagian warga memang sudah kembali ke rumah, namun banyak yang pulang dengan kondisi seadanya.

“Ada yang sudah di rumah, tapi pakai tenda di depan rumah. Ada juga yang masih tinggal di kantor Datok Penghulu, di gedung TK, bahkan masih ada yang di tenda,” tuturnya.

Air Mengalir, Tapi Tak Selalu Layak Diminum

Listrik PLN kini sudah masuk kembali. Sumur bor kembali dihidupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun persoalan lain muncul: kualitas air.

“Air sumur bor ini kami masih ragu untuk diminum,” kata Yanis.

Warga akhirnya bergantung pada air galon isi ulang yang dibeli dari luar desa—itu pun jika ada uang dan penjual yang lewat.

Kondisi sanitasi juga belum sepenuhnya pulih. MCK umum ada, tetapi masih terbatas. Penyakit ringan seperti batuk dan gatal-gatal masih sering muncul, meski layanan kesehatan desa dan relawan masih aktif mendampingi.

Sawit Busuk, Daya Beli Warga Turun

Banjir tak hanya merusak rumah, tetapi juga memukul sumber penghidupan warga. Mayoritas masyarakat Kampung Serba bekerja sebagai petani dan buruh sawit.

“Buah sawit banyak yang busuk. Tidak bisa dipanen. Buruh sawit juga kehilangan pekerjaan,” ujar Yanis.

Pasar memang sudah kembali beroperasi, namun persoalannya kini ada pada daya beli.

“Pasarnya ada, tapi uangnya yang susah,” katanya.

Bantuan beras terakhir dari pemerintah diterima sekitar tiga minggu lalu. Selebihnya, warga bertahan dengan bantuan instan dan membeli kebutuhan tambahan semampunya.

Rindu Sayur Hijau, Rindu Makan Sehat

Di balik semua keterbatasan itu, ada kerinduan sederhana yang sering disampaikan warga: makan sayur segar.

“Kalau ada mobil sayur masuk desa, warga antusias sekali. Kami rindu sayur-sayuran hijau,” ujar Yanis.

Padahal sebelum banjir, banyak warga menanam sayur sendiri.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian YAICI. Sekjen YAICI, Satria Yudistira, menjelaskan bahwa kegiatan di Kampung Serba merupakan bagian dari kepedulian terhadap gizi anak dan balita di wilayah pascabencana.

“Hari ini kami menyerahkan bantuan yang fokus untuk anak dan balita. Kami melihat langsung, akses makanan sehat seperti sayur dan protein masih sulit,” ujar Satria.

YAICI Soroti Risiko Gizi Anak Pascabencana

Menurut Satria, dalam kondisi darurat dan pascabencana, bantuan makanan instan memang dibutuhkan. Namun jika berlangsung terlalu lama, hal itu berisiko mengubah pola makan anak.

“Bantuan instan seperti mie atau kental manis itu tidak bisa terus-menerus. Kami khawatir anak-anak terbiasa dengan makanan yang kurang sehat, padahal mereka sedang dalam masa tumbuh kembang,” katanya.

Sebagai lembaga yang fokus pada edukasi gizi, pencegahan stunting, dan perlindungan anak, YAICI menilai perhatian pada gizi anak pascabencana harus menjadi prioritas bersama.

“Kami berharap pemerintah tetap memfokuskan perhatian ke wilayah seperti ini. Bukan hanya soal rumah dan infrastruktur, tapi juga soal gizi dan kesehatan anak,” tegas Satria.

Selain penyerahan bantuan, YAICI juga menyiapkan kegiatan trauma healing di Desa Pematang Durian, yang melibatkan puluhan anak dan balita, sebagai bagian dari pemulihan psikososial pascabencana.

Anak-anak Tetap Sekolah, Meski Seadanya

Di tengah keterbatasan, semangat anak-anak Kampung Serba tetap terjaga. Sekolah sudah kembali berjalan. Seragam tak selalu lengkap, buku tak selalu baru, tetapi keinginan belajar tetap ada.

“Kadang pakai baju apa yang ada. Tapi anak-anak tetap mau sekolah,” kata Yanis.

Di Kampung Serba tercatat 68 balita, 19 anak TK, 79 anak SD, dan 43 anak SMP—anak-anak yang kini tumbuh di tengah masa pemulihan.

“Jangan Tinggalkan Kami Dulu”

Menutup perbincangan, Datok Penghulu Yanis menyampaikan harapan sederhana, namun sarat makna.

“Kami berharap jangan ditinggalkan dulu. Tetaplah datang melihat keadaan kami. Kami masih berproses untuk benar-benar bangkit,” ujarnya.

Di Kampung Serba, banjir mungkin telah pergi. Namun perjuangan warga untuk kembali hidup normal—dan memastikan anak-anak tetap tumbuh sehat—masih terus berlangsung.

Editor : Ismail

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut