Ketika Bantuan Bencana Angin Puting Beliung di Medan Menambah Beban Dua Orang Penyintas Lansia

Junaidin Zai
Masrul Sihombing (70), penyintas bencana angin puting beliung, ketika diwawancarai pada Senin (21/9/2026). (Foto: Junaidin Zai/iNewsMedan.id)

MEDAN, iNewsMedan.id — Pada Selasa malam, 18 Agustus 2026, sekitar pukul 20.00 WIB, angin puting beliung menerjang permukiman warga di Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara.

Saat itu, angin kencang menerbangkan atap dan dinding rumah warga. Seng, kayu, serta berbagai material bangunan beterbangan. Hujan deras juga mengguyur kawasan tersebut.

Pada Senin (21/9/2026), atau lebih dari sebulan setelah bencana, sebagian korban masih menghadapi persoalan pemulihan.

Masrul Sihombing (70), misalnya, terpaksa mengeluarkan uang sendiri untuk membeli seng sehari setelah rumahnya rusak. Bantuan yang kemudian diterimanya berupa 15 lembar seng dan 10 batang kayu.

Sementara itu, Sumarni (66) menghadapi persoalan berbeda. Rumahnya memang sedang dibangun kembali, tetapi ia mengaku masih harus mencari uang tambahan untuk menutup kekurangan biaya upah tukang.

Inilah Kisah Dua Orang Lansia Itu

Masrul masih mengingat kejadian pada malam itu. Rumahnya yang sebagian besar terbuat dari seng rusak setelah diterjang angin. Ia dan cucu laki-lakinya hanya bisa menyaksikan bagian rumah mereka terbuka.

Keesokan harinya, hujan kembali turun. Atap rumah Masrul sudah berlubang, sedangkan sebagian dindingnya terbuka. Karena tidak mungkin tinggal dalam kondisi tersebut, ia membeli satu kodi atau 20 lembar seng dengan uang sendiri.

“Atap sudah bolong, ini (dinding) sudah terbuka. Tidak mungkin kami tidur dalam keadaan basah,” kata Masrul saat ditemui pada Selasa (22/9/2026).

Beberapa hari setelah kejadian, petugas mulai mendata kerusakan rumah warga. Masrul mengatakan, rumahnya dinilai hanya mengalami kerusakan sekitar 5 persen.

Ia kemudian menerima 15 lembar seng dan 10 batang kayu. Bantuan tersebut datang setelah ia lebih dulu mengeluarkan uang untuk membuat rumahnya kembali dapat ditempati.

“Hanya itu saja,” ujarnya.

Tidak jauh dari tempat tinggal Masrul, rumah Sumarni masih dalam proses pengerjaan. Ia kehilangan rumah sekaligus warung yang menjadi sumber penghasilannya ketika puting beliung menerjang pada malam itu.

Saat angin datang, Sumarni sedang bersiap mengupas telur untuk berjualan sarapan pada keesokan harinya. Listrik tiba-tiba padam. Setelah itu, angin kencang menerjang rumahnya.

Atap seng beterbangan, sementara tiang listrik tumbang. Hujan deras juga turun. Sumarni berusaha keluar dari rumah dengan merangkak melewati tiang listrik yang tumbang. Warung tempatnya mencari nafkah turut hancur.

Ia mengaku masih mengalami trauma setelah kejadian tersebut. Sejak malam itu, Sumarni tidak lagi berjualan dan terpaksa menumpang di rumah kerabat.

“Tiang listrik seperti bom. Wah, tidak karu-karuan rasanya,” katanya.

“Sampai keluar, saya sudah tidak sadar lagi. Saya menangis seperti anak kecil,” lanjutnya.

Sumarni mengatakan, sekitar sepekan setelah bencana, ia mulai dipanggil untuk menghadiri berbagai pertemuan terkait bantuan.

Ia harus bolak-balik menghadiri pertemuan meskipun kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.

“Seminggu setelah itu, Nenek dipanggil ke sana kemari. Ke sana, kemari, ke sana lagi. Nenek capek dan lelah,” katanya.

Karena tidak sanggup berjalan jauh, ia beberapa kali harus dibonceng oleh warga lain.

Pada awalnya, Sumarni menerima material bangunan berupa seng, kayu atau broti, dan tripleks.

Namun, menurut Sumarni, material tersebut kemudian ditarik kembali setelah Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution meninjau lokasi.

Ia mengatakan, gubernur menjanjikan rumah para korban akan dibangun hingga selesai.

“‘Nanti dibuat sampai selesai, ya, Nek. Nenek tinggal memilih warna,’ katanya. ‘Mau warna apa?’” tutur Sumarni, menirukan ucapan gubernur.

Skema bantuan kemudian berubah. Pemerintah tidak lagi memberikan material bangunan secara langsung, tetapi membangun kembali rumah para korban.

Namun, bagi Sumarni, perubahan tersebut belum menghilangkan seluruh beban.

Menurut Sumarni, pemerintah menyediakan Rp8 juta untuk membayar upah pengerjaan rumah.

Sementara itu, tukang yang mengerjakan rumahnya meminta bayaran Rp12 juta. Dengan demikian, terdapat kekurangan Rp4 juta yang harus ia tanggung sendiri.

“Ongkosnya Rp8 juta. Ada di buku tabungan. Tukangnya meminta Rp12 juta. Jadi, masih kurang,” ucapnya.

Karena tidak memiliki uang untuk menutup kekurangan tersebut, Sumarni memilih berutang. Ia berharap dapat mencicil utang itu setelah kembali berjualan.

“Berutang dulu. Nanti, kalau ada rezeki dari berjualan, akan dicicil,” ujarnya.

Ia berharap ada bantuan tambahan agar kekurangan biaya tukang tidak menjadi beban utang.

Pujianto (30), warga yang ditunjuk sebagai ketua kelompok masyarakat terdampak, mengatakan sekitar 150 keluarga di Kelurahan Titi Kuning dan Kelurahan Suka Maju terdampak bencana.

Menurut dia, persoalan bantuan tidak hanya berkaitan dengan jumlah material yang diterima warga, tetapi juga dengan kesesuaian bantuan terhadap tingkat kerusakan rumah.

Sebagian warga yang telah memperbaiki rumah secara mandiri, kata Pujianto, hanya menerima sembako atau beberapa lembar seng dan tripleks.

“Inilah yang dikeluhkan warga. Bantuan yang diberikan hanya lima lembar seng atau sembako, padahal ada rumah yang perlu dibangun ulang,” katanya.

Pujianto mengatakan, pemerintah memang menyediakan Rp8 juta untuk membayar upah pengerjaan rumah. Sementara itu, material bangunan ditanggung oleh pemerintah.

Namun, menurut dia, sejumlah tukang menilai pekerjaan yang harus dilakukan tidak sebanding dengan upah tersebut.

Akibatnya, ada tukang yang menolak mengerjakan rumah warga atau menghentikan pekerjaan di tengah jalan.

Warga kemudian disarankan mencari tukang dengan tarif yang lebih murah atau meminta bantuan anggota keluarga.

“Dibilang dari sana (pemerintah), ‘Pandai-pandailah. Carilah tukang yang agak murah atau gunakan tenaga keluarga,’” ujar Pujianto.

Editor : Jafar Sembiring

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network