Jelang Puasa, Permintaan Meningkat Harga Daging Ayam Bertahan Mahal

Isnaini Kharisma
Masyarakat saat membeli daging ayam di Pasar Tradisional di Kota Medan. Foto: Isnaini Kharisma/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id - Menjelang bulan suci Ramadhan 2026 pada Rabu (18/2/2026) besok, harga daging ayam yang dijual sejumlah pedagang di beberapa pasar tradisional di Kota Medan masih bertahan mahal dan belum mengalami penurunan sejak pekan lalu.

Di Pasar Halat Medan, harga daging ayam berkisar Rp40.000 hingga Rp44.000 per kilogram.

"Bahkan, harga daging ayam sempat menyentuh harga Rp48.000 per kilogram beberapa hari lalu," kata pedagang Winda, Selasa (17/2/2026).

Diakui Winda, untuk stok daging ayam justru melimpah. Diperkirakan karena menjelang puasa harganya dinaikkan dari pemasok.

Hal yang sama juga disampaikan Adi, pedagang di Pasar Simpang Limun Medan. Menurutnya, harga yang masih bertahan mahal ini karena permintaan dari pembeli sangat tinggi, apalagi banyak masyarakat yang melalukan punggahan.

"Ada konsumen yang membeli hingga 10 kilogram untuk kebutuhan stok di rumah dan banyak juga yang buat punggahan," ujarnya.

Lebih lanjut, Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menanggapi fenomena kenaikan harga jual daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Medan

Menurutnya, harga mahal tersebut sudah bertahan sejak Desember 2025 silam hingga saat ini. Dari sisi demand atau permintaan, memang terjadi kenaikan yang cukup signifikan terhadap komoditas daging ayam, khususnya saat ada peningkatan jumlah dapur SPPG (satuan pelayanan pemunihan gizi) atau disebut dengan dapur MBG (makan bergizi gratis).

"Dari data yang saya olah, rata-rata produksi daging ayam hidup untuk wilayah Sumut, Aceh dan Riau tercatat sebanyak 1.26 juta ekor per hari nya pada bulan Agustus 2025. Namun tren produksinya terus alami peningkatan menjadi 1.43 juta pada bulan September, 1.37 juta di Oktober, 1.32 juta di November, dan 1.5 juta di Desember 2025," jelasnya.

Adapun tren produksi dalam peningkatan di tahun 2025, diproyeksikan akan berlanjut hingga tahun 2026 ini. Terlebih untuk wilayah Sumatera Utara, pemerintah menargetkan penambahan jumlah SPPG hingga mencapai 1.700, dari posisi terakhir di Desember sekitar 700-an SPPG. Jadi memang pemicu yang membuat peningkatan produksi ayam potong, namun harganya cenderung bertahan mahal adalah tren konsumsi yang meningkat seiring penambahan jumlah SPPG.

Selain itu, terjadi peningkatan harga pakan seperti jagung yang saat ini bertahan di kisaran 6.250 per kilogram. Setelah sebelumnya harga jagung sempat menyentuh 7.700 per kilogram pada bulan Desember 2025. Padahal harga jagung jauh sebelumnya berada dikisaran 4.700an per kilogram. Komoditas jagung membuat harga pokok produksi untuk ayam potong alami peningkatan.

"Harga daging ayam yang mahal saat ini sudah bertahan hampir dua bulan lamanya. Dan saya memproyeksikan belum ada peluang penurunan harga hingga awal Februari mendatang. Disisi lain saya juga tidak melihat ada potensi kenaikan dalam kuran waktu yang sama. Namun hal yang perlu diwaspadai adalah demand atau permintaan jelang Ramadhan nanti yang bisa mendorong kenaikan konsumsi masyarakat," ungkapnya.

Gunawan menambahkan, jika dilihat dari sisi bahan baku (jagung), saya menilai potensi harga jagung menjadi pemicu kenaikan harga daging ayam terbilang minim. Namun dari sisi kesiapan peternak dalam menyediakan pasokan, nantinya akan lebih menentukan pembentukan harga daging ayam kedepan.

Editor : Jafar Sembiring

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network