Demo Berdarah di Iran, 5.000 Orang Dilaporkan Tewas

Erha Aprili Ramadhoni
Demonstrasi yang berujung bentrokan di sejumlah wilayah Iran dilaporkan menelan ribuan korban jiwa. Foto: BBC

TEHERAN, iNewsMedan.id - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara resmi menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik kerusuhan yang menelan korban jiwa hingga 5.000 orang selama aksi protes anti-pemerintah dalam beberapa pekan terakhir. Pernyataan ini menjadi pengakuan pertama otoritas tertinggi Iran terkait jumlah korban tewas yang mencapai ribuan jiwa.

Seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya mengonfirmasi kepada Reuters pada Minggu (18/1/2026) bahwa dari total 5.000 korban tewas tersebut, sekitar 500 di antaranya merupakan personel keamanan. Pejabat tersebut menyatakan bahwa bentrokan paling berdarah terjadi di wilayah Kurdi, Iran barat laut, yang selama ini dikenal sebagai basis kelompok separatis.

Khamenei menegaskan bahwa kerusuhan ini telah dibajak oleh kekuatan asing untuk memicu ketidakstabilan nasional. Ia secara spesifik menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai aktor utama di balik konspirasi tersebut.

"Mereka yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan beberapa ribu orang," kata Khamenei pada Sabtu (17/1/2026), melansir Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa intervensi Amerika kali ini terasa berbeda karena keterlibatan langsung dari pucuk pimpinan mereka.

"Pemberontakan anti-Iran terbaru berbeda karena presiden AS secara pribadi terlibat," lapor media pemerintah Iran mengutip pernyataan Khamenei.

Meskipun menyatakan Iran akan menghindari eskalasi perang di luar perbatasan, Khamenei memberikan peringatan keras terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kekacauan domestik.

“Kami tidak akan menyeret negara ini ke dalam perang, tetapi kami tidak akan membiarkan penjahat domestik atau internasional lolos tanpa hukuman,” tegasnya.

Selain korban jiwa, pemerintah Iran melaporkan dampak kerusakan infrastruktur yang masif. Khamenei menuduh para demonstran telah membakar lebih dari 250 masjid dan fasilitas medis. Otoritas setempat juga melaporkan telah menangkap sekitar 3.000 orang yang diduga terlibat dalam aksi perusakan tersebut.

Narasi resmi pemerintah menyebutkan bahwa protes yang dimulai pada 28 Desember itu awalnya bersifat damai guna menuntut perbaikan ekonomi. Namun, aksi tersebut kemudian dinilai telah "dibajak" oleh kelompok bersenjata yang dilatih dan didanai oleh pihak luar.

Sebagai langkah normalisasi, kantor berita Fars melaporkan bahwa layanan pesan singkat (SMS) di seluruh negeri telah dipulihkan secara bertahap sejak Sabtu, setelah sebelumnya mengalami gangguan internet total selama delapan hari.

Editor : Jafar Sembiring

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network