Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ancam Habitat Orangutan Tapanuli dan Warga Hilir, Pembiayaan PLTA Batang Toru Minta Dihentikan
Advertisement . Scroll to see content

Kabar Baik: Sarang Orangutan Tapanuli Ditemukan di Penyangga Gunung Lubuk Raya Tapsel

Kamis, 22 Oktober 2026 | 15:11 WIB
  • author Jafar
Kabar Baik: Sarang Orangutan Tapanuli Ditemukan di Penyangga Gunung Lubuk Raya Tapsel
Seekor orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) terekam di Hutan Desa LPHD Permata Hijau, Tapanuli Selatan, Kamis (22/10/2026). Foto: Dok. Green Justice Indonesia

TAPANULI SELATAN, iNewsMedan.id - Harapan baru bagi kelestarian satwa terancam punah kembali bersemi dari belantara Sumatra Utara. Lembaga swadaya masyarakat Green Justice Indonesia (GJI) bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Permata Hijau resmi mengumumkan penemuan titik sarang orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) di kawasan penyangga Gunung Lubuk Raya, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Temuan penting ini merupakan hasil peninjauan lapangan yang intensif di Hutan Desa LPHD Permata Hijau, Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, sepanjang September hingga Oktober 2026. Kehadiran primata endemik ini memperkuat bukti bahwa wilayah kelola masyarakat memegang peran krusial dalam benteng terakhir konservasi alam.

Manajer Program GJI, Sofyan Adli, menyambut baik temuan tersebut. Menurutnya, kawasan hutan desa di bawah naungan LPHD Permata Hijau terbukti menyimpan kekayaan hayati luar biasa yang sejalan dengan misi perlindungan habitat orangutan tapanuli.

Sebagai langkah nyata membentengi kawasan tersebut, Sofyan menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, organisasi sipil, dan kelompok tani—seperti SHI, Jaringan Aliansi Masyarakat Marancar (JAMM), seluruh LPHD, serta Kelompok Tani Hutan—untuk merapatkan barisan menyelamatkan sisa-sisa hutan di Tapsel.

"Dalam waktu dekat, kolaborasi ini akan diwujudkan dalam bentuk Forum Konservasi Orangutan Tapanuli (FOKAT)," ungkap Sofyan, Kamis (22/10/2026).

Sementara itu, anggota LPHD Permata Hijau, Roniansyah Siregar, menceritakan bahwa keberadaan kera besar berbulu merah tersebut sebenarnya merupakan bagian dari sejarah panjang kehidupan warga Marancar Godang. Warga lokal kerap menjumpai orangutan tapanuli secara langsung, terutama saat musim buah-buahan seperti durian.

"Kami merasa ini menjadi satu anugerah bahwa lahan hutan desa memiliki satwa langka yang satu-satunya ada di dunia, yakni orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Sejak dahulu para leluhur kami menganggap orangutan tapanuli merupakan hewan sakral yang harus dilindungi," kata Roniansyah.

Dukungan pengamanan kawasan juga ditegaskan oleh Ketua Serikat Hijau Indonesia (SHI) Sumut, Hendra Hasibuan. Meskipun keberadaan kera besar ini sudah lama diketahui dari cerita turun-temurun dan dokumentasi warga, temuan sarang terbaru ini mendesak semua pihak untuk memperketat pengawasan.

SHI Sumut menuntut agar seluruh wilayah penyangga Gunung Lubuk Raya mendapat perlindungan maksimal melalui skema konservasi yang jelas dan berkelanjutan, tanpa ada toleransi bagi aktivitas perusakan lingkungan.

"Kami SHI Sumut tidak menginginkan ada ancaman kehadiran perusahaan-perusahaan dalam bentuk apa pun, pemburu-pemburu liar, dan penebang liar yang bisa mengganggu habitat dan keberlangsungan hidup orangutan tapanuli, serta kehidupan masyarakat sekitar penyangga Gunung Lubuk Raya," tegas Hendra.

Melalui sinergi antara masyarakat adat, lembaga pengelola hutan, dan organisasi lingkungan, masa depan orangutan tapanuli di tanah Tapanuli Selatan diharapkan dapat terus terjaga dari ancaman kepunahan.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut