Temuan HIV di Sumut Bikin Terkejut, 865 Kasus Tercatat pada Kelompok LSL
MEDAN, iNewsMedan.id— Kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) menjadi kelompok dengan temuan HIV tertinggi di Sumatera Utara. Dinas Kesehatan Sumut mencatat 865 kasus HIV pada kelompok tersebut sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Kadis Kesehatan Sumut, Faisal Hasrimy melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Sumut, dr. Nora Nasution, mengatakan tingginya temuan pada kelompok LSL menunjukkan adanya perubahan pola yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengendalian HIV.
"Kalau dulu perubahannya adalah di WPS, wanita pekerja seksual. Nah, sekarang sudah berubah, WPS-nya sudah rendah, sekarang di LSL, lelaki seks lelaki," ujar Nora kepada wartawan, Jumat, 25 September 2026.
Meski temuan kasus cukup tinggi, Nora mengingatkan angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan HIV sedang mengalami peningkatan. Menurutnya, pemerintah memang memiliki target penemuan berdasarkan estimasi kasus yang harus ditemukan setiap tahun.
"Yang kita cari itu memang kasus sebanyak-banyaknya, jadi jangan dibilang meningkat," katanya.
Penemuan kasus sedini mungkin dinilai penting agar pasien segera mendapatkan pengobatan dan upaya pencegahan penularan dapat dilakukan. Target penemuan kasus tersebut merupakan bagian dari strategi pengendalian HIV hingga 2030.
Dari data Januari hingga Agustus 2026, selain LSL, temuan HIV juga berasal dari sejumlah kelompok. Pelanggan pekerja seks tercatat 255 kasus, pasangan orang dengan HIV 121 kasus, pasangan berisiko tinggi 73 kasus, wanita pekerja seksual 58 kasus dan ibu hamil 51 kasus.
Kemudian pasien tuberkulosis yang juga terinfeksi HIV mencapai 400 kasus. Temuan lainnya berasal dari populasi umum sebanyak 344 kasus, pasien dengan infeksi menular seksual 45 kasus, warga binaan pemasyarakatan 29 kasus, calon pengantin 24 kasus, waria 23 kasus, anak orang dengan HIV 22 kasus, pasien dengan hepatitis 18 kasus dan pengguna narkoba suntik enam kasus.
Jika seluruh kelompok tersebut dijumlahkan, Nora menyebut terdapat 2.334 temuan kasus.
Medan dan Deli Serdang menjadi wilayah dengan temuan cukup banyak. Namun, angka tersebut tidak seluruhnya menggambarkan asal domisili pasien. Sebagian pasien dari kabupaten/kota lain memilih berobat di Medan karena alasan privasi.
"Orang yang dari kabupaten/kota lain pun karena malu dia ketahuan dia berobat di daerahnya, dia pasti akan berobat ke sini, ke Medan," jelas Nora.
Menurutnya, stigma dan diskriminasi masih menjadi salah satu kendala dalam menemukan kasus HIV. Sebagian orang enggan memeriksakan diri atau terbuka mengenai faktor risiko ketika menjalani konseling.
"Kesadaran mereka untuk memeriksakan diri ini yang enggak ada. Masuk ke situ aja kita susah karena stigma itu," katanya.
Dinkes Sumut telah menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan bagi orang dengan HIV di puskesmas maupun rumah sakit di kabupaten/kota. Pasien juga mendapatkan konseling mengenai pengobatan serta cara mencegah penularan.
Pengobatan antiretroviral (ARV) diberikan untuk menekan jumlah virus dan menjaga kualitas hidup pasien. Pemeriksaan viral load dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh virus HIV berhasil ditekan setelah pasien menjalani pengobatan.
Di sisi lain, kematian pada orang dengan HIV masih ditemukan. Nora mencatat 191 orang dengan HIV meninggal sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
"Terbanyak di Medan ada 74 orang yang meninggal. Disusul Deliserdang, 21 orang,"ujarnya.
Nora menegaskan penemuan kasus sejak dini menjadi bagian penting dalam pengendalian HIV. Semakin cepat seseorang mengetahui statusnya, semakin cepat pula pengobatan dan langkah pencegahan penularan dapat dilakukan.
Editor: Ismail