Banjir Berulang di Kelurahan Besar Medan, Warga Sebut Kiriman dari Kawasan Industri Medan
MEDAN, iNewsMedan.id - Warga Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara, mengeluhkan banjir yang terus berulang kali menggenangi permukiman mereka.
Pada Kamis (10/9/2026), air di Jalan Tangguk Utama terlihat masih tergenang. Bahkan belum surut hingga sore hari setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak Rabu malam kemarin.
Ruspian (71), warga setempat. Ia mengatakan ketinggian air di sekitar rumahnya mencapai sekitar 60 sentimeter atau satu lutut orang dewasa.
Masalah banjir di kawasan itu bukan semata-mata karena tidak adanya sungai di sekitar permukiman. Ia menduga air berasal dari arah Kawasan Industri Medan (KIM) dan meluap karena kapasitas parit yang tidak memadai.
"Kalau di tempat saya itu, banjirnya sedengkul. Lebih kurang 60 cm tinggi airnya. Kalau biasanya air ini luapan dari KIM. Sebab paritnya kecil, tumpah, lalu ke rumah penduduk," kata Ruspian.
Air yang menggenangi permukiman juga mengalir cukup deras. Warga menyebut genangan tersebut baru biasanya surut setelah sekitar 24 jam.
Namun, waktu tunggu itu dapat menjadi lebih panjang ketika hujan kembali turun.
Ruspian mengatakan persoalan tersebut bukan hal baru. Ia telah tinggal di kompleks tersebut sejak 1994 dan menyaksikan banjir berulang kali menerjang kawasan tempat tinggalnya.
Selama bertahun-tahun, ia akhirnya melakukan mitigasi secara mandiri agar air tidak masuk ke rumah.
Ia meninggikan tanah, lantai, dan pintu rumah secara bertahap. Menurutnya, proses tersebut dilakukan hingga empat kali.
"Saya sampai empat kali menaikkan tanah di rumah ini. Untuk meninggikan saja agar tidak kena banjir. Ini baru tinggi 1 meter. Awalnya saya tambah 30 cm, lalu 30 cm lagi, terus naik sampai 1 meter, saya cicil. Sampai empat kali naik, barulah tidak masuk banjir," tuturnya.
Riama, warga Jalan Tangguk Utama, mengatakan banjir mulai menggenangi permukiman sekitar pukul 23.00 WIB.
Menurut dia, kawasan tersebut memang kerap dilanda banjir karena kondisi tanah yang rendah. Bahkan hujan dengan intensitas ringan disebutnya sudah cukup untuk membuat air masuk ke permukiman.
"Banjirnya dari semalam pas hujan deras. Jam 11.00 malam sudah mulai banjir. Di sini tanahnya rendah. Walaupun hujan sedikit saja, pasti banjir. Gerimis, banjir sudah semata kaki," kata Riama.
Di rumahnya, ketinggian air mencapai lutut. Riama mengatakan warga terpaksa memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi untuk mencegah kerusakan.
Ia bahkan mulai mempertimbangkan untuk mengungsi sementara ke Blok 3 yang lokasinya tidak terdampak banjir.
"Di rumah saya banjirnya masuk selutut. Terpaksa kami menaikkan barang ke atas. Inilah lagi berpikir untuk mengungsi di Blok 3 yang tidak banjir," ujarnya.
Warga Minta Parit Diperbesar
Banjir yang terus berulang membuat warga berharap ada penanganan yang lebih permanen, bukan sekadar menunggu air surut setiap kali hujan turun.
Ruspian meminta pemerintah memperhatikan kondisi drainase di kawasan tersebut. Ia berharap parit yang ada dikorek, diperdalam, dan diperbesar agar mampu menampung aliran air.
"Jadi kalau bisa, parit itu digali, diperbesar sama pemerintah. Kalau memang pemerintah mau respons, ya, itu paritnya didalamkan, diperbesar. Cuma itu saja," katanya.
Bagi warga Kelurahan Besar, persoalannya sederhana: ketika hujan datang, air kembali memenuhi permukiman. Dan selama saluran air tidak mampu menampung limpasan, rumah-rumah mereka tetap menjadi tempat terakhir bagi air untuk berhenti.
Editor: Jafar Sembiring