Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ombudsman Minta SPPG Penyebab Keracunan MBG Ditutup Permanen
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Pilu Febiola: Dari Siswa Juara Kelas Jadi Lupa Keluarga Usai Diduga Keracunan MBG

Senin, 07 September 2026 | 19:12 WIB
  • author Junaidin Zai
Kisah Pilu Febiola: Dari Siswa Juara Kelas Jadi Lupa Keluarga Usai Diduga Keracunan MBG
Elvinus Lusiana Sitanggang (44), ibu kandung Febiola Purba, saat menceritakan kronologi anaknya mengalami hilang ingatan dan gangguan bicara di kawasan RS Adam Malik, Medan, Senin (7/9/2026). Foto: Junaidin Zai/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id - Febiola Purba seorang siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bersama Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), mengalami kejang, hilang ingatan, dan sulit berbicara setelah mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG), pada Kamis (13/8/2026).

Ibu Febiola, Elvinus Lusiana Sitanggang (44), menceritakan jika anak keempatnya itu, sejak saat itu, hingga kini Senin (7/9/2026), Febiola, telah berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk menjalani perawatan.

Gangguan ingatan yang dialami Febiola membuatnya tidak lagi mengenali sejumlah anggota keluarga dan teman sekolahnya. Kata Elvinus, Febiola sempat bertanya siapa sang bibi ketika mereka datang menjenguknya.

Elvinus dan suami, Icuk Sugiarto Purba, bahkan harus membantu Febiola untuk mengingat kembali orang-orang terdekatnya seperti saudara, tante, pamannya, dan teman sekolahnya.

"Kalau kata psikiater (soal sulit berbicara) lidahnya tertarik ke dalam. Kalau soal ingatannya kami masih menunggu hasil," kata Elvinus saat dijumpai di RS Adam Malik, Senin siang.

"Maunya anakku ini dikasih pengobatan yang tepat biar jangan kembali lagi bolak-balik ke rumah sakit," sambungnya.

Hampir genap satu bulan sejak keracunan, pihak rumah sakit belum mengeluarkan hasil pemeriksaan medis yang dilakukan kepada Febiola. Sementara itu, pihak Badan Gizin Nasional (BGN) regional Sumut belum berani buka suara.

Humas RS Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan jika Febiola menjalani rawat jalan sejak 31 Agustus lalu.

"Hari ini adalah yang kedua. Untuk sekarang fokusnya pada pemeriksaan neurologi anak dan psikatri," kata Dorothy.

Bermula dari Pusing dan Gatal-gatal

Febiola sempat mengeluhkan pusing dan gatal di sekujur tubuh setelah pulang sekolah. Kemudian ia tidur dan beberapa menit setelah itu, Elvinus, memberinya susu dan saat yang bersamaan Febiola muntah.

Menurut Elvinusiana, Febiola sempat dirawat selama tiga hari di sebuah rumah sakit di Kabanjahe. Saat itu, belum terlihat gangguan ingatan.

"Selama pulang dari rumah sakit, masih biasa, normal," ujarnya.

Sehari setelah dipulangkan, Febiola mengalami kejang di rumah. Ia disebut mengalami kejang berulang hingga sempat tidak sadarkan diri sekitar 30 menit.

"Selama kejang kira-kira 10 menit, terus kejang lagi. Bersambung-sambung dia," katanya.

Febiol kemudian dibawa ke Rumah Sakit Haji Medan. Keluarga mengatakan sejak menjalani perawatan di sana, kemampuan Febiola dalam mengingat orang dan berkomunikasi mulai berubah.

"Di situlah dia mulai, omongannya sudah seperti anak-anak. Padahal anak saya ini sering juara 1 di sekolah. Dia juga wakil ketua OSIS," kata Elvinus.

823 Korban dan Pertanyaan tentang Pengawasan

Data Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara menunjukkan terdapat satu kejadian gangguan kesehatan terkait MBG pada 2025 dan lima kejadian pada 2026.

Jumlah korban keseluruhan mencapai 823 orang.

Angka tersebut meningkat dari data sebelumnya yang mencatat 807 korban.

Herdensi Adnin, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sumatera Utara, mengatakan salah satu kasus terbesar terjadi di Kabupaten Karo dengan 389 korban. Kasus lain tercatat di Deli Serdang dengan 11 korban dan Pakpak Bharat dengan 16 korban.

Angka tersebut membuat persoalan MBG tidak lagi dapat dilihat sebagai kejadian terpisah yang hanya berkaitan dengan satu dapur penyedia makanan.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi salah satu mata rantai penting dalam sistem tersebut. Di tempat inilah bahan makanan diolah sebelum dikirim kepada penerima manfaat.

Bahan pangan harus diterima dalam kondisi layak, disimpan dengan benar, diolah dengan standar kebersihan, dikemas, diangkut, dan dikonsumsi dalam rentang waktu yang aman.

Kegagalan pada satu tahapan saja dapat menimbulkan risiko bagi banyak anak karena makanan diproduksi dan didistribusikan secara massal.

Dalam kasus Karo, Badan Gizi Nasional mengungkap dugaan kelalaian dalam penyimpanan bahan baku ikan. Sebagian ikan disebut tidak disimpan di freezer dan dibiarkan pada suhu ruang selama 12 jam atau lebih.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut