Sosok AKP Hitler Hutagalung: Perwira Polisi Penumpas Kejahatan, Pejuang Lingkungan Danau Toba
TAPUT, iNewsMedan.id - Julukannya di dunia reserse mungkin disegani, namun di kalangan masyarakat bawah, ia dikenal sebagai pahlawan lingkungan penakluk sampah. Dialah AKP Hitler Hutagalung (48), seorang perwira polisi aktif yang saat ini menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara.
Di luar seragam cokelatnya, pria yang akrab disapa Galung ini berhasil mengubah momok menakutkan bernama limbah botol plastik menjadi sumber penghidupan baru (cuan) bagi warga di Kecamatan Muara dan Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara.
Baru setahun kepak sayap bisnis sosialnya berjalan, dampaknya sudah nyata dirasakan dalam menjaga kelestarian lingkungan di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba.
Aksi nyata AKP Hitler bermula dari keresahannya melihat tumpukan sampah plastik yang kerap menyumbat saluran air hingga memicu banjir. Ia sadar, penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan imbauan.
Terinspirasi dari tayangan YouTube milik pakar daur ulang Muhammad Baedowy, Hitler tidak ragu melangkah jauh. Ia langsung terbang ke Bekasi untuk menemui sang pengusaha plastik senior tersebut demi menimba ilmu langsung dari hulu ke hilir.
Sepulangnya dari Bekasi, ia mendirikan pabrik pengelolaan sampah seluas 20 x 40 meter di Desa Selando, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Menariknya, ini menjadi satu-satunya pabrik pencacah botol bekas yang ada di wilayah tersebut.
"Puluhan masyarakat kini terbantu dengan ikut mengumpulkan botol-botol bekas, mulai dari botol bensin hingga botol air mineral. Karyawan kami bergerak mengumpulkannya dari pom bensin, hotel, hingga bengkel-bengkel," ujar AKP Hitler, Selasa (16/6/2026).
Perjuangan sang Kasat Reskrim tentu tidak instan. Lewat tekad yang kuat dan pantang menyerah, industri rumahan miliknya kini mampu melahap 1 hingga 3 ton sampah plastik per hari untuk diproses menggunakan mesin pencacah.
Botol-botol plastik yang awalnya tidak bernilai dan mengotori lingkungan tersebut dicacah menjadi bijih plastik siap olah, yang kemudian dikirim ke pabrik-pabrik penampungan besar di Pulau Jawa.
Langkah ini tidak hanya membersihkan lanskap empat kabupaten penyangga Danau Toba Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba, dan Samosir tetapi juga menggerakkan roda ekonomi sirkular bagi warga lokal.
Inovasi brilian dari seorang perwira pertama Polri ini langsung mendapat respons positif dari birokrasi setempat. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Utara kini telah melirik usaha milik Hitler untuk menjajaki kerja sama taktis dalam penanggulangan sampah daerah.
Bagi Hitler, bisnis ini bukan semata-mata soal meraup keuntungan pribadi. Jauh dari itu, ia ingin mengedukasi masyarakat luas, khususnya generasi muda.
"Pengelolaan sampah ini bukan menjadi cuan saja, tetapi juga memberikan edukasi bagi anak-anak sekolah agar mereka paham bahwa sampah jika dikelola dengan benar bisa bernilai ekonomi dan menyelamatkan bumi," pungkasnya.
Editor: Jafar Sembiring