get app
inews
Aa Text
Read Next : Dandhy Laksono Bedah Buku 'Reset Indonesia' dan Isu Krisis Iklim di Medan

Kopi Marancar Tapsel Siap Mendunia, Jadi Senjata Baru Jaga Hutan!

Kamis, 16 April 2026 | 13:29 WIB
header img
Penampakan Kopi Marancar di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan. Foto: Istimewa

TAPANULI SELATAN, iNewsMedan.id - Potensi pasar kopi yang terus meroket di kancah domestik maupun internasional menjadi angin segar bagi para petani di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan. 

Kolaborasi strategis antara Green Justice Indonesia (GJI), pelaku usaha seperti Coffeenatics, dan pemerintah desa kini tengah mematangkan langkah untuk menyulap kawasan ini menjadi pusat produksi kopi berkelanjutan yang selaras dengan pelestarian hutan.

Harris Hartanto, selaku CEO & Co-Founder Coffeenatics, mengamati adanya tren konsumsi kopi yang terus menanjak secara konsisten. Fenomena perubahan gaya hidup, khususnya di segmen generasi muda, menjadi motor penggerak utama di balik tingginya permintaan pasar saat ini.

“Outlook kopi selalu positif. Konsumen, baik di dalam negeri maupun luar negeri, sudah mulai beralih ke kopi. Ini peluang besar,” ujarnya saat mengunjungi kebun petani di Marancar Godang, Rabu (15/4/2026).

Ia juga menyoroti pasar global, termasuk Cina, yang mulai mengalami peningkatan konsumsi kopi meski sebelumnya dikenal sebagai negara dengan budaya minum teh yang kuat. Kondisi ini dinilai membuka peluang ekspor yang semakin luas bagi kopi Indonesia.

Dalam konteks produksi, Harris menjelaskan bahwa jenis kopi robusta berpotensi semakin dominan di masa depan. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan iklim yang membuat suhu semakin panas, sehingga varietas arabika menjadi lebih sulit dibudidayakan.

“Arabika butuh suhu dingin, sementara kondisi sekarang makin panas. Robusta akan jadi alternatif yang lebih kuat ke depan,” katanya.

Meski demikian, ia menilai kualitas kebun kopi petani di Marancar sudah cukup baik. Peningkatan masih diperlukan, terutama dalam aspek perawatan, konsistensi, serta penambahan pohon pelindung (shading).

“Kuncinya itu konsistensi. Jangan berhenti merawat hanya karena harga turun. Kopi itu tetap ada pasarnya,” tegas Harris.

Di sisi hulu, petani masih menghadapi berbagai tantangan. Agus Parulan Siregar, anggota LPHD Permata Hijau, mengatakan bahwa saat ini pengembangan kopi di desanya masih berada pada tahap pembibitan. Ribuan bibit kopi tengah disiapkan untuk mendukung perluasan lahan tanam.

“Sekarang ini kita masih fokus di pembibitan dari bantuan yang ada. Sekitar 3.000 bibit sedang kita kelola,” ujarnya.

Namun, keterbatasan bibit dan akses pasar masih menjadi kendala utama. Fluktuasi harga dari tengkulak juga kerap memengaruhi motivasi petani.

“Harga dari toke tidak menentu. Kami berharap ada pembeli yang lebih pasti,” tambah Agus.

Selain itu, kebutuhan akan pendampingan teknis juga masih tinggi, mulai dari perawatan tanaman hingga pemupukan. Petani berharap ada dukungan berkelanjutan agar produksi bisa meningkat, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Kepala Desa Marancar Godang, Ridwan Siregar, menyebut luas kebun kopi di wilayahnya saat ini telah mencapai sekitar 15 hektare, dengan produksi berkisar antara 600 kilogram hingga 1 ton per bulan.

“Kita terus dorong masyarakat menanam kopi karena wilayah ini sangat cocok. Tapi yang utama itu kemauan, baru kemudian perawatan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam penyediaan bibit unggul, pembinaan, serta akses pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo, menegaskan bahwa pengembangan kopi di Marancar tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya konservasi. 

Wilayah ini berada di kawasan penyangga lanskap Batang Toru, habitat penting bagi orangutan tapanuli yang populasinya sangat terbatas.

“Kita ingin menguatkan mata pencaharian masyarakat melalui kopi, tapi tetap sejalan dengan perlindungan ekosistem,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan berbasis kopi berkelanjutan menjadi strategi untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan kelestarian lingkungan. 

GJI saat ini fokus pada penguatan kelompok tani, peningkatan kualitas bibit, serta membuka akses pasar hingga ke tingkat internasional dengan menghadirkan pembeli dari luar negeri.

“Targetnya, kopi Marancar bisa menjadi produk unggulan dunia,” kata Panut.

Sebagai bagian dari penguatan rantai produksi, GJI juga menyerahkan bantuan mesin pengolahan kopi kepada kelompok LPHD Permata Hijau. 

Program Manager GJI, Ahmat Sayuti, mengatakan bahwa bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas hasil kopi petani.

“Bantuan ini diharapkan bisa mendukung kesejahteraan kelompok, terutama dalam proses pascapanen,” ujarnya.

Mesin pengolahan kopi tersebut ditempatkan di area strategis dekat pembibitan dan kantor desa agar mudah diakses petani. 

Kehadiran alat ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pihak luar serta memperkuat kemandirian ekonomi kelompok.

Dengan dukungan dari berbagai pihak—mulai dari pendampingan, akses pasar, hingga penguatan produksi—Marancar Godang kini menapaki jalan untuk menjadi model pengembangan kopi berkelanjutan.

Di kawasan ini, kopi tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menjaga hutan dan keberlangsungan spesies langka di dalamnya.

Editor : Jafar Sembiring

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut