Dari Proyek STEAM ke Aksi Nyata: Panggung Imlek yang Menguatkan Anak Pejuang Kanker
MEDAN, iNewsMedan.id— Riuh tepuk tangan memenuhi auditorium ketika kisah “Mulan” mencapai adegan puncaknya. Namun malam itu, yang paling terasa bukan hanya dramatisasi cerita, melainkan kesadaran baru yang tumbuh di antara para siswa: ada anak-anak seusia mereka yang sedang berjuang melawan kanker.
Perayaan Lunar New Year di Sampoerna Academy tahun ini dikemas berbeda. Selain menjadi bagian dari pembelajaran budaya dan bahasa Mandarin, kegiatan tersebut terintegrasi dalam pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts & Mathematics). Teater “Mulan: An Inspired Adaptation” dijadikan proyek kolaboratif lintas disiplin—mulai dari perancangan artistik, manajemen produksi, tata cahaya, hingga koordinasi tim dalam skala besar.
Sebanyak 450 siswa terlibat langsung. Ada yang berdiri di atas panggung, ada pula yang bekerja di balik layar. Mereka belajar menyusun konsep, memecahkan persoalan teknis, membagi waktu latihan dengan tugas akademik, hingga mengelola dinamika kerja tim. Bagi sekolah, proses itu sama pentingnya dengan hasil akhir pertunjukan.
Di tengah persiapan itulah para siswa diperkenalkan pada realitas yang berbeda: tentang anak-anak yang harus menjalani kemoterapi, tentang hari-hari panjang di rumah sakit, dan tentang harapan sederhana untuk bisa kembali bermain dan belajar seperti biasa. Dari diskusi tersebut muncul kesepakatan untuk menjadikan pementasan ini lebih dari sekadar perayaan.
Sebagian hasil penjualan tiket kemudian disalurkan kepada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Cabang Surabaya, bertepatan dengan Hari Kanker Anak Sedunia yang diperingati setiap 15 Februari.
“Anak-anak mulai memahami bahwa kemampuan yang mereka miliki bisa memberi dampak bagi orang lain. Itu yang ingin kami tanamkan,” ujar Maharsi Palupining Rini, National Principal Sampoerna Academy Surabaya Grand Pakuwon, Kamis, 19 Februari 2026.
Bagi YKAKI, dukungan dari pelajar memiliki makna tersendiri. Perwakilan YKAKI Cabang Surabaya, Susi Khomariya, menyebut perhatian generasi muda menjadi suntikan semangat bagi anak-anak pejuang kanker yang tengah menjalani pengobatan.
Pemilihan kisah “Mulan” pun bukan tanpa pertimbangan. Karakter Mulan yang berani mengambil keputusan sulit dan bertahan dalam tekanan dianggap selaras dengan nilai ketangguhan—sesuatu yang juga tercermin dalam perjuangan anak-anak penderita kanker.
Di akhir acara, para siswa tak hanya membawa pulang pengalaman tampil di atas panggung besar. Mereka juga membawa pulang pemahaman bahwa pendidikan tidak berhenti pada angka dan nilai. STEAM, dalam konteks ini, bukan hanya tentang integrasi sains dan seni, melainkan juga tentang membentuk kepekaan sosial.
Perayaan Imlek itu pun meninggalkan kesan berbeda: bukan sekadar simbol budaya, tetapi momentum untuk mengingat bahwa di luar sana, ada perjuangan yang membutuhkan dukungan. Dan kadang, dukungan itu bisa dimulai dari sebuah panggung kecil, dengan niat yang besar.
Editor : Ismail