Air Bersih Jadi Barang Langka Pascabanjir Aceh Tamiang, Warga Terancam Sakit
ACEH, iNewsMedan.id- Kebutuhan akan air bersih menjadi salah satu persoalan krusial yang dihadapi warga terdampak banjir di sejumlah wilayah di Aceh Tamiang.
Persoalan tersebut kerap dikeluhkan warga saat tim kesehatan PT Raya Padang Langkat (PT.Rapala) melakukan aksi tanggap darurat di beberapa desa di wilayah Aceh Tamiang.
Kasus-kasus seperti demam, diare, batuk (ISPA) dan penyakit kulit gatal-gatal tercatat paling banyak ditemukan tim kesehatan dari PT Rapala selama melaksanakan program bantuan kesehatan ke desa-desa terdampak di Aceh Tamiang, seperti di Desa Kampung Marlempang, Dusun Benteng, Dusun Rambutan di Kecamatan Marlempang Desa Balai, Desa Cinta Raja, Desa Bandar Baru di Kecamatan Bendahara dan yang terakhir Kampung Paya Udang, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang.
Pasca banjir sebagian besar sumber air bersih milik warga tergenang air dan lumpur mengakibatkan kurangnya pasokan air bersih untuk kebutuhan warga.
Meski Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh Tamiang telah mendistribusikan air bersih melalui mobil tangki serta pembuatan sumur bor, namun kebutuhan air masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga sehari-hari.
Seperti yang disampaikan Datuk penghulu Kampung Paya Udang di Kecamatan Seruway, Armansyah, pada Kamis, 9 Januari 2025.
Ia mengatakan walaupun pasokan air bersih melalui pipa PDAM di wilayahnya telah mengalir, namun tidak setiap saat bisa dimanfaatkan karena terkadang macet.
Sementara pembuatan sumur bor yang masih dilakukan hingga saat ini menurut Armansyah belum mampu memenuhi kebutuhan warganya yang berjumlah sekitar 1.500 jiwa.
"Pasokan air bersih dari PDAM sebenarnya telah ada, namun tidak setiap saat mengalir, semoga pembuatan sumur bor yang sedang dilakukan di desa kami bisa membantu mengatasi persoalan ini" kata Armansyah.
Hal serupa juga disampaikan Datuk Penghulu Desa Bandar Baru, Yanda yang ditemui tim kesehatan PT Rapala beberapa hari sebelumnya.
Yanda mengungkapkan pasokan air bersih dari mobil tangki air yang disediakan pemda telah disalurkan, namun tidak setiap hari bisa datang untuk memenuhi kebutuhan warganya yang berjumlah sebanyak 370 kepala keluarga.
"Jangankan untuk mandi dan mencuci, untuk beribadah saja kami kesulitan setiap harinya", ungkapnya menjelaskan.
Menurut salah seorang tim kesehatan PT Rapala, dr. Safrida mengatakan, kurangnya ketersediaan air bersih membuat warga terpaksa tidak menggunakan air bersih untuk mandi dan mencuci.
Bantuan air yang terbatas dimanfaatkan hanya untuk minum dan memasak, namun ketika pasokan air habis warga cenderung tidak memasak dan hanya mengandalkan dapur umum.
"Bisa kita simpulkan persoalan air yang terbatas dan tidak higienis menjadi faktor penyebab warga terjangkiti penyakit", kata Safrida menjelaskan.
Safrida menambahkan ketersedian air bersih ini perlu segera dibenahi agar persoalan kesehatan warga bisa segera teratasi.
Sementara salah seorang perwakilan kantor direksi PT Rapala, Divai Pasaribu mengatakan persoalan keterbatasan air bersih ini juga menjadi perhatian pihaknya selain memberikan bantuan layanan kesehatan bagi warga.
"Kita telah menyalurkan bantuan air bersih berupa air kemasan satu kotak untuk tiap satu keluarga dalam setiap pelayanan kesehatan ke desa- desa yang kita datangi, selain itu sebelumnya kita juga telah menyalurkan air bersih melalui mobil tangki yang kita datangkan dari Kota Medan". kata Divai menambahkan.
PT Rapala sendiri juga terus berperan aktif membantu pemerintah daerah menyalurkan bantuan logistik dan layanan kesehatan dengan mendatangkan tim medis lengkap bagi warga korban terdampak banjir sejak Desember tahun 2025 lalu hingga kini sebagai bentuk kepedulian di wilayah Langkat hingga Aceh Tamiang.
Editor : Ismail