get app
inews
Aa Read Next : UMKM Perempuan untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Digital

Easycash Kolaborasi dengan AFPI dan OJK untuk Mendukung UMKM Sumatra Utara

Senin, 13 Mei 2024 | 18:42 WIB
header img
Easycash Kolaborasi dengan AFPI dan OJK untuk Mendukung UMKM Sumatera Utara. (Foto: Istimewa)

MEDAN, iNewsMedan.id - Platform Fintech Lending sebagai bagian dari industri financial technology turut membantu tingkat inklusi keuangan Indonesia hingga secara keseluruhan mencapai 85,1% pada 2023. Hal itu menurut data Kementerian Koordinator Perekonomian.

Meskipun demikian, tingkat literasi keuangan digital di Indonesia masih di angka 48 persen. Oleh karenanya, berbagai platform fintech lending kolaborasi dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengatasi kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi tersebut.

Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kesenjangan tersebut, AFPI menginisiasi acara Fintech Lending Days yang ke-5 bertajuk “Pendanaan Alternatif UMKM Sumatra Utara melalui Fintech Lending” pada tanggal 6-7 Mei 2024 di Kota Medan, Sumatra Utara.

Melalui acara ini, AFPI bekerja sama dengan Easycash dan beberapa fintech P2P lending lainnya dalam memaksimalkan produktivitas UMKM sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah dengan potensi yang dimiliki oleh UMKM Sumatra Utara.

Ketua Umum AFPI Entjik S Djafar, menyebut industri fintech lending yang legal terus berkomitmen untuk mendorong inovasi dan inklusivitas dalam perkembangan sektor-sektor terkait, terutama para pelaku usaha UMKM dalam hal pendanaan usaha bisnis mereka.

“Tahun ini, Fintech Lending Days berlangsung di Medan, dengan mengundang sebanyak 17 komunitas pelaku UMKM di bawah naungan organisasi wilayah Sumatra Utara mengikuti sesi pameran UMKM Exhibition & Talk Show. Hal ini menjadi bukti minat mereka terhadap pendanaan alternatif usaha mereka melalui platform fintech lending,” kata Entjik.

Lebih lanjut, kegiatan ini diharapkan mampu menjadi jembatan antara para pelaku usaha mikro atau wirausahawan dengan penyelenggara fintech lending untuk dapat saling berkolaborasi dalam pengembangan bisnis bersama.

“Kami juga ingin terus mengedukasi para pelaku UMKM untuk memanfaatkan platform fintech lending sebagai alternatif pendanaan yang legal, agar terhindar dari pinjol (ilegal),” ujar Entjik.

AFPI mencatat per Februari 2024, terdapat penyaluran khusus fintech lending ke Sumatra Utara dengan akumulasi pinjaman mencapai Rp19.5 Triliun yang menunjukkan adopsi yang kuat dari masyarakat dalam memanfaatkan layanan fintech lending.

Selain itu, tercatat 77.651 lender dan 3.178.464 borrower yang mencerminkan perkembangan yang pesat dalam industri fintech lending di Sumatra Utara yang diharapkan dampak memberikan dampak positif dalam memajukan perekonomian regional dan meningkatkan akses finansial bagi masyarakat.

Head of Corporate Affairs Easycash (PT Indonesia Fintopia Technology), Wildan Kesuma, mengatakan Easycash berkomitmen untuk meningkatkan inklusi keuangan bagi masyarakat yang underbanked dan underserved melalui teknologi.

"Salah satu perwujudan komitmen tersebut adalah dengan memberikan edukasi dan literasi UMKM di Sumatra Utara mengenai manfaat dan risiko menggunakan fintech P2P lending untuk mempromosikan inklusi keuangan serta inovasi untuk semua lapisan masyarakat Indonesia,” jelasnya.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya kunjungan ke beberapa UMKM setempat,  Media Visit dan Exhibition yang diramaikan oleh OJK, Pemerintah Kota Medan, IWAPI, AFPI, para pelaku UMKM, Easycash dan beberapa platform fintech P2P lainnya.

Partisipasi Easycash dalam acara ini merupakan bagian dari Program Pendanaan Sehat yang Easycash inisiasi. Program Pendanaan Sehat akan terus hadir sepanjang tahun 2024, mengunjungi kampus-kampus di berbagai kota besar untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai manajemen keuangan, manfaat dan risiko menggunakan layanan fintech lending.

Sementara itu, Kadis Koperasi dan UKM Provinsi Sumatra Utara, Naslindo Sirait, mengatakan berdasarkan hasil riset, salah satu kendala terbesar UMKM saat ini adalah masalah pendanaan.

Pemilik bisnis seringkali kesulitan mengakses pembiayaan untuk memulai atau mengembangkan bisnis mereka. Sumber daya keuangan yang terbatas dapat menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan dan inovasi bisnis.

“Dengan adanya platform fintech lending, UMKM dapat lebih mudah mengajukan pinjaman dan memperoleh dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya. Ini adalah peluang baru bagi pemilik bisnis untuk merencanakan pertumbuhan jangka panjang dan meningkatkan daya saing mereka di pasar,” ujar Naslindo.

Editor : Odi Siregar

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut