DPM Goes to Campus, Mahasiswa ISTP Diajak Memahami Praktik Tambang yang Bertanggung Jawab

Ismail
DPM Goes to Campus, Mahasiswa ISTP Diajak Memahami Praktik Tambang yang Bertanggung Jawab. Foto: Istimewa

MEDAN, iNewsMedan.id – Pengelolaan tambang bawah tanah bukan hanya soal teknik penambangan, tetapi juga mencakup keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Hal ini menjadi pembahasan dalam kegiatan DPM Goes to Campus 2026 di Institut Sains dan Teknologi TD Pardede (ISTP), Medan, Rabu, 21 Oktober 2026.

Mengusung tema “Memahami Pertambangan Bawah Tanah yang Bertanggung Jawab”, PT Dairi Prima Mineral (DPM) memperkenalkan praktik pertambangan yang baik kepada seratusan mahasiswa jurusan pertambangan dan kalangan akademisi ISTP Medan.

Chief Legal and External Relations Officer PT Dairi Prima Mineral, Radianto Arifin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi perusahaan untuk menjelaskan pengelolaan pertambangan sekaligus berdialog langsung dengan kalangan akademisi dan mahasiswa.

“Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar agenda untuk memperkenalkan perusahaan. Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk membuka ruang dialog, bertukar pengetahuan, dan mendengarkan perspektif akademisi serta mahasiswa mengenai masa depan pertambangan di Indonesia,” kata Radianto.

Menurutnya, industri pertambangan berperan dalam mendukung pembangunan dan perekonomian nasional. Namun, aktivitas tersebut juga menuntut tanggung jawab besar dalam menjaga lingkungan, memastikan keselamatan kerja, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Keberhasilan sebuah perusahaan tambang tidak hanya diukur dari produksi. Keberhasilan juga harus dilihat dari bagaimana pertambangan dilakukan, bagaimana lingkungan dikelola, bagaimana keselamatan dijaga, dan bagaimana keberadaan perusahaan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Radianto menjelaskan, DPM menerapkan metode tambang bawah tanah dengan pendekatan yang dirancang untuk meminimalkan dampak terhadap permukaan. Perusahaan juga menggunakan konsep backfilling dalam pengelolaan material hasil kegiatan pertambangan sesuai persetujuan dan ketentuan yang berlaku.

Ia menambahkan, praktik pertambangan yang bertanggung jawab juga mencakup pengelolaan dan pemantauan lingkungan, keselamatan kerja, serta program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Meski demikian, Radianto menekankan bahwa komitmen perusahaan tidak cukup disampaikan dalam bentuk pernyataan, tetapi harus diwujudkan melalui pelaksanaan yang nyata dan dapat dievaluasi.

“Komitmen harus dibuktikan melalui tindakan, data, proses yang terukur, dan keterbukaan terhadap evaluasi,” katanya.

Radianto juga mempersilakan mahasiswa dan akademisi menyampaikan pertanyaan maupun kritik terkait praktik pertambangan. Menurutnya, pandangan kritis dari lingkungan kampus dapat menjadi masukan untuk perbaikan.

“Kami percaya bahwa pertanyaan kritis dari kampus justru dapat menjadi bagian dari proses perbaikan,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa dapat memahami pertambangan secara lebih luas, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga teknologi, lingkungan, keselamatan, sosial, ekonomi, dan tata kelola.

“Melalui DPM Goes to Campus, kami berharap hubungan antara dunia industri dan dunia akademik dapat semakin erat,” katanya.

Ketua Yayasan Perguruan Darma Agung, Hana Nelsri Kaban, berharap kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa serta membuka peluang kerja sama antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah.

“Kami yakin dan percaya acara ini akan menambah ataupun menjalin kolaborasi dengan baik, dan meningkatkan penelitian pembangunan daerah Dairi dan pembangunan daerah Sumatra Utara, terlebih-lebih membantu kami dalam meningkatkan kompetensi bagi mahasiswa ISTP dan Universitas Dharma Agung,” kata Hana.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Dairi, Surung Charles Lamhot Banjarnahor, mengingatkan bahwa praktik pertambangan yang baik harus memperhatikan aspek teknis, lingkungan, sosial, dan hukum.

Ia mengatakan, aktivitas pertambangan kerap menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat karena melibatkan penggalian tanah dan pengambilan material dari dalam bumi.

“Konotasi kita, orang awam pasti akan merusak lingkungannya,” ujarnya.

Karena itu, Surung menilai pengelolaan lingkungan harus menjadi bagian penting dalam aktivitas pertambangan. Selain itu, perusahaan perlu memenuhi tanggung jawab kepada masyarakat sekitar melalui program corporate social responsibility (CSR) serta mematuhi ketentuan hukum yang berlaku.

Surung mengaku telah mengikuti perkembangan DPM selama sekitar 25 tahun, sejak bertugas di lingkungan Dinas Pertambangan. Ia berharap perusahaan tersebut dapat terus berkembang dan membuka peluang kerja bagi tenaga lokal, termasuk lulusan bidang pertambangan dan geologi.

Kepada mahasiswa, ia berpesan agar menjalani pendidikan dengan serius dan mempersiapkan kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Lakukanlah dengan baik kuliahnya. Tunjukkan kompetensi Anda,” katanya.

Surung juga mendorong perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat untuk mengambil bagian dalam pembangunan melalui pendekatan pentahelix. Keterlibatan berbagai pihak tersebut dinilai penting, termasuk untuk mengembangkan penelitian dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Program Studi S-1 Teknik Pertambangan ISTP telah berdiri sejak Juli 1987. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai pengelolaan tambang bawah tanah dan penerapan praktik pertambangan yang bertanggung jawab. 

Editor : Ismail

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network