Bukan Sekadar Tanaman, Sofyan Tan Sebut Bambu Bisa Jadi Investasi Jangka Panjang

Ismail
Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan saat menyampaikan pemaparan tentang pemanfaatan bambu dalam kegiatan bimtek di Medan, Sabtu (5/9). Foto: Istimewa

MEDAN, iNewsMedan.id – Bambu dinilai bukan sekadar tanaman yang tumbuh liar atau pelengkap lingkungan. Jika dikelola serius, tanaman ini bisa menjadi sumber penghasilan jangka panjang sekaligus investasi untuk generasi berikutnya.

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, mengatakan bambu memiliki keunggulan karena cukup ditanam sekali, tetapi dapat dipanen berkali-kali.

“Bambu itu ada sekali tanam, mau panen seumur hidup,” kata Sofyan Tan saat menjadi keynote speaker dalam Bimbingan Teknis Pemanfaatan Bambu sebagai Bahan Baku untuk Berbagai Produk Bernilai Tinggi di Hotel Four Points by Sheraton Medan, Sabtu (5/9).

Menurutnya, bambu relatif mudah dibudidayakan selama mendapat cukup sinar matahari dan tumbuh di tanah yang memiliki kelembapan cukup. Bambu yang sudah matang dapat dipanen sekitar tiga hingga lima tahun, dengan usia ideal sekitar empat tahun.

Nilai ekonominya juga tidak hanya berasal dari batang. Rebung dapat diolah menjadi bahan makanan, sementara batangnya dapat dimanfaatkan untuk membuat mebel, papan, lantai hingga berbagai produk bernilai tambah.

Daun bambu pun memiliki pasar tersendiri. Sofyan mencontohkan penggunaannya sebagai pembungkus makanan, termasuk dalam tradisi pembuatan bakcang.

“Dari rebungnya, kemudian batangnya, dan daunnya, semuanya bisa dimanfaatkan, memiliki nilai ekonomi yang bagus,” ujarnya.

Sofyan mengatakan dirinya telah memanfaatkan bambu selama lebih dari 20 tahun. Di Ecolodge Bukit Lawang, ia mengembangkan bangunan dan restoran dengan material bambu.

Ia juga tengah mengembangkan kawasan orangutan di Pancur Batu yang dilengkapi rumah, restoran dan jembatan berbahan bambu.

Menurut Sofyan, potensi bambu tidak berhenti pada aspek ekonomi. Tanaman tersebut juga dapat berperan dalam menjaga lingkungan, termasuk membantu meredam dampak bencana.

Ia menceritakan pengalamannya ketika banjir bandang menerjang Bukit Lawang. Saat itu, material kayu berukuran besar yang terbawa arus menghantam rumah warga. Namun, pada salah satu rumah, rumpun bambu di bagian depan mampu menahan sekaligus meredam hantaman material tersebut.

Sofyan menilai kekuatan bambu salah satunya terletak pada sifatnya yang lentur. Karena itu, ia mendorong masyarakat mulai melihat bambu sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar tanaman.

“Sepulangnya dari sini, berpikiran untuk investasi jangka panjang untuk anak cucu. Tanamlah bambu,” pesannya.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Dr Sarah Augustina, S.Hut., M.Si., sebagai narasumber dari BRIN.

Editor : Ismail

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network