JAKARTA, iNewsMedan.id - Dokter Spesialis Bedah Saraf dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS, menegaskan bahwa epilepsi bukanlah penyakit menular maupun gangguan kejiwaan. Penyakit ini murni merupakan gangguan pada sistem saraf pusat yang terjadi akibat ketidakseimbangan aktivitas listrik di otak.
"Otak manusia bekerja menggunakan sinyal listrik. Nah, pada penderita epilepsi, terjadi lonjakan sinyal listrik yang tidak normal dan berulang, sehingga memicu kejang atau bahkan gangguan kesadaran," ungkap dr. Wienorman dalam keterangan resminya, Rabu (21/1/2026).
Pernyataan ini bertujuan untuk meluruskan stigma di masyarakat yang sering kali menganggap epilepsi dapat berpindah antarmanusia layaknya flu atau berkaitan dengan hal mistis. Wienorman menjelaskan bahwa kondisi medis ini berhubungan langsung dengan fungsi fisik otak, bukan disebabkan oleh infeksi yang menular.
"Sederhananya, epilepsi bukan soal mistis, tapi soal navigasi listrik di kepala manusia," tambahnya.
Faktor penyebab seseorang mengidap epilepsi sangat beragam, mulai dari riwayat cedera kepala, gangguan bawaan, infeksi otak, stroke, hingga tumor otak. Meski demikian, dr. Wienorman menyebutkan bahwa pada sebagian pasien, penyebab pastinya terkadang tidak dapat ditemukan secara spesifik.
Masyarakat juga diimbau untuk mengenali gejala epilepsi yang tidak selalu berupa kejang hebat. Pada beberapa kasus, gejala dapat muncul dalam bentuk tatapan kosong secara tiba-tiba, gerakan kecil berulang, atau kehilangan kesadaran singkat.
"Karena gejalanya beragam, epilepsi sering kali tidak disadari sejak awal. Jika muncul episode 'blank' yang sering atau kejang tanpa demam, jangan abaikan itu. Itu adalah cara otak memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperiksa," ujar dr. Wienorman.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
